Dinkes Ajak Pelajaran dan Masyarakat Tekan Angka HIV dan Aids

Dinkes Ajak Pelajaran dan Masyarakat Tekan Angka HIV dan Aids
foto: INILAH/Rizky Mauludi

INILAH, Bogor - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengajak pelajar Kota Bogor dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mengetahui informasi penyakit HIV dan Aids. Pemberian informasi itu diawali mengumpulkan perwakilan pelajar untuk mengikuti Peringatan Hari Aids Sedunia (HAS) di Lapangan Heulang, Kecamatan Tanah Sereal pada Sabtu (14/12/2019) siang.

 

Kali ini Dinkes Kota Bogor mengambil jargon bersama masyarakat meraih sukses untuk menekan angka HIV dan Aids di kota hujan. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah pengidap HIV dan Aids di Kota Bogor saat ini didominasi oleh perilaku sek bebas dan menekan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual (LGBT). 

 

Kepala Dinkes Kota Bogor Rubaeah mengatakan, peringata HAS tingkat Kota Bogor kali ini melibatkan para pelajar Kota Bogor, karena kondisi di Kota Bogor saat ini dengan jumlah penderita HIV dan Aids mencapai empat ribuan membuat Kota Bogor menempati posisi ketiga Se Jawa Barat. 

 

"Dengan posisi jumla penderita HIV positif 4.333 orang. Karena itu kami mengambil tema bersama masyarakat meraih sukses sementara itu tahun 2018 angkanha mencapainya 3.500 lebih," ungkap Rubaeah.

 

Ia menekankan, kenaikan jumlah pengidap HIV dan Aids ini cukup signifikan, karena Kota Bogor memiliki faktor resiko tinggi yang memungkinkan terjangkit HIV. Faktornya yaitu, pertama perilaku masyarakat tentang seks bebas, kemudian dalam hal tidak sadarnya masyarakat tentang bahaya penyakit HIV. Jadi orang yang menderita penyakit HIV tidak tahu dirinya sudah mengidap penyakit HIV.

 

"Khususnya yang tidak mengetahui itu Pekerja Seks Komersial (PSK), biasanya HIV ini saat ketahuan sudah berat dan sadar sendiri sehingga komplikasi ke mana-mana. Itu resiko PSK, tapi trend saat ini penyakit HIV saat ini di Kota Bogor banyak diidap ibu rumah tangga. Karena prilaku seksual, kalau dahulu penasut atau penggunaan jarum suntik," tambahnya.

 

Rubaeah menjelaskan, kenapa banyak ibu rumah tangga, karena ini akibat perilaku suami, sehingga mereka para ibu rumah tangga menjadi korban. Hampir 16 persen dari jumlah total pengidap HIV di Kota Bogor adalah ibu rumah tangga, sisanya dari penasut dan LGBT.

 

"Kan LGBT ini juga ada PSKnya dan gay nya disitu. Meski populasi kunci itu masih dipegang PSK dan sangat berbahaya karena mereka tidak sadar telah terjangkit HIV," jelasnya.

 

Rubaeah memaparkan, karena itu Dinkes Kota Bogor menyediakan mobil curhat untuk mengetahui penyakit, tapi masih enggan diminati mobil curhat ini. Data di Kota Bogor masih banyak kemungkinan pengidap yang belum terdata, karena itu diajak masyarakat untuk memberikan penyuluhan dan edukasi dengan tujuan pencegahan sejak dini.

 

"Kami akan raih populasi kunci. Kami harus aktif menjemput saat ini, meski faktor HIV karena penasut banyak tahun 2014 hingga 2015. Kami juga mengajak para siswa SMP hingga SMA mengetahui informasi soal HIV," paparnya. 

 

Rubaeah membeberkan, wilayah pengidap HIV banyak di Kecamatan Bogor Barat dan kedua Bogor Selatan. Karena ada lokalisasi tempat PSK dibeberapa titik. Terlebih perbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor. 

 

"Kami juga telah bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dalam pencegahan dan penanggulangan," pungkasnya. (Rizky Mauludi)