Orang yang Paling Berbahagia

Orang yang Paling Berbahagia

SAYA sedang membaca kitab berjudul "Al-Raqsh Ma'a al-Hayat." Saya menjumpai beberapa kalimat yang inspiratif yang perlu kita renungkan untuk menjadi lebih berbahagia dalam hidup. Sesungguhnya bahagia itu tak usah dicari di mana-mana, ia akan datang dalam kehidupan kita manakala hati kita telah bersih dan layak ditempati makhluk berharga bernama bahagia itu.

Adalah tak mungkin makhluk seberharga bahagia itu menempati ruang hati yang kotor. Lalu, bagaimana cara membersihkannya dan menjaga kebersihannya? Sepertinya butuh waktu beberapa semester untuk mengulas lengkap tentang hal ini.

Apa saja kalimat inspiratif yang dimaksud di atas? Salah satunya adalah: "Saya meminta semua hal kepada Allah agar saya bisa menikmati hidup. Allah memberikan kepada saya kehidupan yang bisa membuatku bisa menikmati segala hal yang aku miliki." Kita baca ulang minimal tiga kali untuk lebih memahami mana kalimat itu.

Memiliki segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah tidak mungkin. Allah membagi-bagikan nikmatNya kepada semua makhluk. Kalaulah bahagia harus bermakna memiliki segala sesuatu, maka tak mungkin ada manusia yang bisa menggapai bahagia. Walau tak mungkin memiliki segala sesuatu, kita masih bisa berbahagia dengan cara mampu menikmati apa yang kita miliki.

"Al-Imtinan Kanz al-Hukama'" artinya adalah bahwa mensyukuri yang ada dengan ungkapan terimakasih adalah harta perbendaharaan para bijak. Percayalah bahwa ada hikmah dalam setiap yang terjadi pada kita. Mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain untuk menjadi milik kita, apalagi dibumbui dengan iri hati dan dengki, adalah cara orang tak berpendidikan dalam menata masa depannya. Tinggalkanlah cara ini, bermigrasilah pada cara lain yang lebih baik dan bersahaja, yakni tersenyum bahagia menjalani apa yang menjadi takdir kita.

Ada orang yang mendambakan semua pekerjaan dan jabatan untuk menjadi pekerjaan dan jabatan yang dimilikinya. Dalam daftar riwayat hidupnya tertulis banyak sekali jabatan yang diembannya selama ini. Semua orang yang membaca riwayat hidupnya kagum dan geleng kepala penuh takjub. Sebagian pembaca lagi pusing membacanya karena tidak selesai-selesai saking banyaknya daftar pekerjaa dan jabatannya.

Sesaat sebelum menghebuskan nafas terakhirnya beliau berkata: "Saya tak pernah rasakan bahagia karena terlalu sibuk bekerja dan tak pernah menyapa serta berterimakasih pada Dzat Pemberi kehidupan." Tahukah siapa yang saya kisahkan ini? Maukah hidup kita menjadi hidup yang bahagia menurut orang lain namun menderita dirasa diri? Lalu langkah-langkah apa saya yang perlu kita lakukan? Butuh beberapa semester untuk menjelaskannya. Salam, AIM. [Inilahcom]