Bayi Orang Utan Kaliimantan dan Singa Afrika Lahir di Taman Satwa Cikembulan Garut

Bayi Orang Utan Kaliimantan dan Singa Afrika Lahir di Taman Satwa Cikembulan Garut
(Foto: Zainulmukhtar)
Bayi Orang Utan Kaliimantan dan Singa Afrika Lahir di Taman Satwa Cikembulan Garut

INILAH, Garut- Taman Satwa Cikembulan Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut kian mengukuhkan diri sebagai lembaga konservasi yang berhasil menangkar satwa langka, dan dilindungi. Belum lama ini, orang utan, singa afrika, serta macan tutul lahir di sana.

Pengunjung pun dimanjakan dengan hadirnya seekor bayi orang utan (Pongo Pygmeus Moreo) dilahirkan pada 9 November 2019 dari pasangan orang utan jantan Jena, dan orang utan betina Jeni.

Selain itu, empat ekor bayi singa afrika (Panthera leo) kembar dilahirkan pada 24 Oktober 2019 dari pasangan singa jantan Rimba, dan singa betina Shinta.

Pengunjung bisa menyaksikan langsung bagaimana tingkah bayi orang utan dengan induknya itu di kandang tak jauh dari pintu masuk Taman Satwa Cikembulan. Sedangkan keempat ekor bayi singa sewaktu-waktu dapat disaksikan di kandangnya di area Taman Satwa Cikembulan di pagi, atau sore hari sebab mereka masih dalam perlindungan induknya.

Kelahiran bayi orang utan di Taman Satwa Cikembulan sendiri merupakan peristiwa kali ketiga sejak lembaga konservasi tersebut dibuka pada 2009. Sedangkan kelahiran bayi singa merupakan kali kedua terjadi.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar Dodi Arisandi menyambut baik, dan mengapresiasi keberhasilan Taman Satwa Cikembulan dalam mengelola satwa langka hingga bisa berkembang biak secara baik. Seperti halnya kelahiran bayi orang utan, dan singa.

“Ini membuktikan Taman Satwa Cikembulan berhasil menambah populasi orang utan di Indonesia. Perkembangan baik bagi orang utan yang merupakan satwa dilindungi ini. Kami pun berterima kasih Taman Satwa Cikembulan dapat merawat, dan melestarikan orang utan,” ujarnya, Rabu (18/12/2019).

Dodi menambahkan pihaknya juga mempertimbangkan adanya usulan agar dibuatkan silsilah khusus bagi orang utan yang merupakan satwa dilindungi dengan habitat asli di wilayah hutan Kalimantan, dan Sumatera itu.

Menurut Manajer Taman Satwa Cikembulan Rudy Arifin, dengan hadirnya bayi orang utan belum diberi nama itu, populasi orang utan di Taman Satwa Cikembulan kini bertambah menjadi sebanyak tujuh ekor. Sedangkan populasi singa bertambah menjadi sebanyak delapan ekor.

“Bayi orang utan ini belum kita beri nama karena belum bisa diketahui pasti jenis kelaminnya. Sang induk masih sangat protektif karena bayi ini masih menyusui. Sedangkan empat ekor anak singa, kemungkinan keempatnya jantan, dan baru dua ekor diberi nama. Yaitu Bagja, dan Jaya. Alhamdulillah, hasil pemeriksaan dokter hewan, semuanya sehat, dan perkembangannya bagus,” ujar Rudy.

Ditambahkan, bayi orang utan, dan keempat ekor anak singa itu masih terus dalam pemantauan dokter hewan untuk memastikan bagusnya kondisi kesehatan dan perkembangan tubuhnya dari waktu ke waktu.

Selain orang utan, dan singa afrika, Taman Satwa Cikembulan juga sebelumnya berhasil mengembangbiakkan macan tutul (Panthera Pardus) dengan mengawinkan macan tutul asal Gunung Sawal Ciamis si Kupa dengan macan tutul asal Gunung Cikurai Garut si Kurai. Hasil perkawinan kedua macan tutul tersebut terlahir seekor macan tutul betina dinamai si Bulan pada 28 Desember 2013.

Sayangnya, kendati Taman Satwa Cikembulan telah berhasil menunjukkan berbagai prestasinya, perhatian dari Pemkab Garut masih kurang. Hal itu terlihat dengan kondisi akses jalur jalan menuju Taman Satwa Cikembulan terkesan dibiarkan diwarnai kerusakan di berbagai titik. Sehingga menghambat optimalisasi peningkatan kedatangan pengunjung ke obyek wisata edukatif tersebut.(zainulmukhtar)