Kota Bandung Miliki Kafe Unik, Seperti Apa?

Kota Bandung Miliki Kafe Unik, Seperti Apa?
Istimewa

INILAH, Bandung - Memiliki air yang jernih dan tidak berbau menjadi dambaan terhadap sungai di daerah perkotaan. Namun hal ini bukanlah harapan semata, Kota Bandung telah memilikinya.

Adalah sungai saluran sungai Babakan Irigasi, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar yang kini aliran airnya jernih dan tidak berbau. Lokasinya membelah permukiman cukup padat dan tepat berada di samping Pasar Ulekan.

Saking jernihnya aliran air di sungai ini, banyak anak-anak yang ingin berenang di area sungai. Padahal tempat yang 'disulap' oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan bekerja sama dengan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) ini baru diresmikan pada Sabtu (21/12/2019)

DPU juga menbuat area sungai dengan dasar batuan, kemudian ditempatkan tiga set kursi. Walhasil aliran sungai Babakan Irigasi ini pun tampak menjadi sebuah cafe yang berada di atas permukaan sungai.

"Kita lihat airnya ini jernih memang bakterinya belum selesai tapi secara kualitas air ga bau dan jernih," kata Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana.

Dia berharap, keberadaan cafe 'walungan' bisa bertambah. Karena dirinya melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan dengan mendandani daerah sungai, baik menjadi destinasi wisata ataupun pusat kegiatan masyarakat.

Sebab, sambung dia, di samping air yang jernih, tim dari DPKP juga turut rancangan taman dan area daerah pinggiran sungai sehingga tampak menarik. Sejumlah tanaman bunga, rumput dan tempat duduk-duduk menjadi fasilitas masyarakat untuk bersosialisasi.

"Mudah-mudahan bisa hadir di beberapa tempat dan bisa jadi destinasi wisata yang baru," ucapnya.

Aliran air yang jernih di sungai babakan irigasi ini, dikatakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Didi Ruswandi merupakan hasil penyaringan menggunakan Biocord. Yakni sebuah teknologi instalasi yang didatangkan dari Jepang untuk mengubah air sungai kotor dan berbau.

Instalasi Biocord, dituturkan dia dipasang di bagian hulu sepanjang 15 meter. Kemudian air sungai yang jernih mengaliri area buatan DPU sepanjang 42 meter yang terdiri dari kolam cetek setinggi betis orang dewasa.

"Jadi namanya itu Biocord, teknologi dari Jepang. Itu kaya rumah mikroba kena air ditambah udara aktif, nanti aktifnya itu tiga minggu," kata Didi.

Dia menambahkan, pemilihan lokasi di Babakan Irigasi karena debit aliran air di sungai ini bisa diatur, sehingga bisa disesuaikan dengan Biocord. Setelah pembuatan ini, DPU juga akan terus mengedukasi masyarakat agar memelihara sekitar area Biocord. (yogo triastopo)