(Sikap Kami) Politisasi (Busuk) Bencana

(Sikap Kami) Politisasi (Busuk) Bencana
Ilustrasi/Antara Foto

BANJIR besar yang melanda Jabodetabek-Banten membuat kita tak cukup hanya sekali prihatin. Rasa prihatin kita muncul berkali-kali. Prihatin terhadap korban, prihatin terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan untuk kepentingan sendiri.

Keprihatinan kita terhadap korban sama besarnya seperti kita prihatin terhadap ulah politisi-politisi busuk, atau alat-alatnya yang sama-sama busuk, untuk menyerang pihak-pihak yang tak searah politik dengan mereka.

Banjir yang berdampak terhadap puluhan ribu, bahkan ratusan ribu saudara-saudara kita, semestinya membuat kita menutup mulut, menutup hati yang busuk, dan bersatu bersama korban, setidaknya menyatukan empati. Tapi, ternyata itu tidak kita dapatkan.

Jika kita mendengar kritikan terhadap pemimpin yang bertanggung jawab dalam bencana banjir atau longsor, tentu kita masih bisa terima. Tapi, yang kita lihat bukan lagi sekadar kritik. Sudah banyak caci-maki, hujatan kanan-kiri. Padahal, bencana bukan hanya urusan pemimpin, tapi urusan kita bersama.

Seorang politisi, misalnya, memajang foto Wali Kota Bima Arya Sugiarto dan Gubernur Anies Baswedan sedang selfi di Bendungan Katulampa. Teks foto itu begitu insinuatif. Padahal, itu foto lama, sekitar dua tahun sebelumnya. Tidakkah ini perilaku buruk dari politisi kita?

Politisi-politisi semacam itu, sepatutnya tak lagi punya tempat di panggung politik kita. Pendahulu negeri ini sudah mengajarkan kepada kita betapa politik itu adalah panggung yang indah dan beradab. Tidak seperti itu. Tidak dengan mengabaikan rasa dan derita korban.

Padahal, kalau kita mau jujur, saat banjir melanda Jabodetabek-Banten, nyaris tak kelihatan seorang politisi pun yang turun tangan bersama masyarakat. Yang tampak oleh kita justru ormas-ormas seperti FPI, yang membantu warga, tanpa peduli apakah yang dibantu adalah orang yang memusuhi mereka. Ormas yang juga dimusuhi kebanyakan politisi-politisi nyinyir saat banjir itu.

Politisi-politisi itu, juga antek-anteknya yang tak kalah busuk itu, tak lebih sekadar mengoceh, seolah-olah paling benar, untuk menaikkan citranya, di tengah derita banyak warga. Kita, sekali lagi, tak butuh politisi seperti itu. (*)