Perajin Dodol Cina Purwakarta, Hidup Segan Mati Tak Mau

Perajin Dodol Cina Purwakarta, Hidup Segan Mati Tak Mau
Foto: Asep Mulyana
Perajin Dodol Cina Purwakarta, Hidup Segan Mati Tak Mau

INILAH, Purwakarta – Kue keranjang atau dodol Cina, mungkin menjadi penganan khas yang wajib ada di setiap momen perayaan imlek. Tak heran, jelang perayaan Imlek yang tinggal menghitung hari itu, para pengrajin kue keranjang mulai menyibukan diri produksi makanan berwarna merah kecoklatan tersebut.

Di Kabupaten Purwakarta, ada pasangan renta yang masih konsisten memproduksi kue keranjang tersebut. Adalah Mulyadi (69) dan Hayati (68), warga Gang Aster, Kecamatan Purwakarta. Bagi mereka, perayaan imlek menjadi berkah tersendiri.

Saat ditemui dikediamannya, Mulyadi mengaku, produksi kue keranjang di Imlek tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, produksi kue khas dengan rasa manis ini 1,8 ton. Tetapi, tahun ini hanya mencapai maksimal hanya 1,5 ton.

“Penjualan kue keranjang tidak seramai tahun lalu. Tahun ini ada penurunan permintaan,” ujar Mulyadi akhir pekan kemarin.

Selain produksinya menurun, lanjut dia, harga jualnya pun ikut turun. Pasalnya, tahun ini harga kue keranjang yang diproduksinya hanya dibandrol Rp 35 ribu per kilogram atau per tiga picis. Padahal, tahun lalu harganya masih bisa terjual Rp 40 ribu per kilogramnya.

Meski demikian, sambung dia, kue keranjang ini tetap diproduksi. Sebab, kue berwarna merah kecoklatan ini, merupakan penganan wajib saat imlek dan perayaan gong xi fat cai. Apalagi, dirinya telah memroduksi kue keranjang sejak 30 tahun yang lalu.

Dia menceritaan soal keterampilan membuat kue tersebut. Mulyadi mengaku, keterampilannya ini diperolehnya dari ibu kandungnya, Mulyati. Dari dulu, ibundanya memang konsisten membuat kue keranjang setiap setahun sekali. Sepeninggalannya, usahanya diturunkan pada Mulyadi. Sebab, anak yang lain tak mau berkecimpung dalam usaha pembuatan dodol tersebut.

Saat ini, lanjut Mulyadi, dodol buatannya ini banyak dilirik oleh konsumen yang telah menjadi pelanggannya. Salah satunya, pelanggan tetapnya yakni pemilik toko emas yang cukup terkenal di Kabupaten Purwakarta.

“Khusus pesanan toko emas langganan ini, biasanya mencapai satu ton kue keranjang,” jelas dia.

Karena masih banyaknya langganan itulah, dirinya masih terus konsisten memproduksi kue berbahan dasar tepung beras itu. Namun, penganan ini hanya ia produksi setahun sekali saja. Setelah itu, Mulyadi tidak lagi memroduksi dodol Cina itu. Sebab, pernah dia mencoba, memroduksi kue keranjang di hari-hari biasa. Ternyata, tidak laku di jual.

“Pernah, kita coba membuat dodol Cina, sehari 20 kilogram beras putih. Ternyata, tidak laku. Akhirnya, dodol itu habis dimakan sendiri dan dibagikan ke tatangga,” kata dia.

Sementara itu, Hayati (67) isteri Mulyadi menuturkan, dirinya sejak awal menikah langsung tertarik menekuni usaha dodol Cina. Bersama suaminya, Hayati terus menjalankan usaha tersebut hingga hari ini.

Dari muda sampai usia kita sudah tua, kita tetap membuat dodol Cina. Soalnya, tidak ada lagi perajin dodol di Purwakarta ini,” ujarnya.

Hayati menuturkan, dodol Cina yang diproduksinya diyakini memiliki kualitas terbaik. Sebab, dari komposisi, dodol ini menggunakan bahan baku berkualitas. Serta, tidak menggunakan bahan pengawet ataupun perisa makanan.

Adapun bahan bakunya, yaitu beras ketan putih kualitas bagus yang digiling menjadi tepung. Lalu, gula pasir. Serta, air rebusan daun pandan. Untuk menghasilkan dodol Cina yang bagus, dia membocorkan rahasianya. Yaitu satu kilogram tepung ketan dicampur dengan dua kilogram gula pasir. Terus, dicampur air rebusan daun pandan. Dicampur, hingga teksturnya lembut.

“Yang paling utama, mengukusnya harus 14 jam. Jadi, dodolnya matang dengan sempurna. Warnanya, merah kecoklatan,” pungkasnya. (Asep Mulyana)