Citra Negatif Kawasan Cilodong Berangsur Sirna

Citra Negatif Kawasan Cilodong Berangsur Sirna
Foto-foto: Asep Mulyana
Citra Negatif Kawasan Cilodong Berangsur Sirna

INILAH, Purwakarta – Kawasan Cilodong, Kecamatan Bungursari dahulu terkenal sebagai pusat prostitusi jalanan di Kabupaten Purwakarta. Bahkan, sepanjang jalur Bungursari menuju pintu Tol Cikopo itu dulu terdapat banyak warung dengan penerangan lilin yang menjajakan jasa para pekerja seks komersial (PSK).

Seiring berjalannya waktu, warung remang-remang di sepanjang jalur itu pun berangsur hilang. Saat ini, lokasi tersebut berganti taman bunga yang indah. Terlebih, saat ini ditempati para pedagang bunga. Hal itu, juga tak lain berkat upaya pemerintah setempat menertibkan lokasi prostitusi tersebar di zamannya itu. Tentunya, dengan mengedepankan langkah persuasif.

Citra negatif tentang wilayah itu pun kini berangsur sirna. Apalagi, saat ini telah berdiri pusat keagamaan di sekitar Cilodong. Tentunya, tujuan utama dibangunnya kawasan tersebut tak lain supaya praktik prostitusi di lokasi tersebut bisa diminimalisasi. Sehingga, daerah ini tak lagi terkenal dengan sebutan kawasan mesum.

Ya, Tajug Gede Cilodong. Begitulah sebutan untuk kawasan keagamaan terbesar di Purwakarta itu. Lokasi ini, mungkin saat ini bangunan itu menjadi ikon baru wilayah tersebut. Tajug dalam bahasa Sunda bermakna masjid, sementara dede bermakna besar.

Sesuai namanya, masjid besar ini terletak di sebuah area tanah seluas 10 hektare. Satu hektare digunakan untuk masjid dan sisanya untuk fasilitas penunjang. Masjid besar dengan arsitektur lebih ‘nyunda’ itu dibangun sejak pertengahan 2017 lalu.

Di bagian dalam masjid, dihiasi berbagai ukiran khas Jawa Barat. Ukiran tersebut, kabarnya terbuat dari kayu jati pilihan dan sengaja didatangkan dari Gunung Jati Cirebon. Untuk bangunan masjid memiliki dua lantai. Untuk lantai satu, dikhususkan untuk sarana peribadahan yang bisa menampung hingga 2.000 jamaah.

Untuk lantai duanya, dibuat sebuah gedung pertemuan dengan kapasitas 2.000 orang. Tak hanya itu, saat ini di sekeliling masjid besar itu terdapat taman indah yang dihiasi beragam bunga. Di areal yang diberi nama Taman Welas Asih itu pun terdapat kolam yang dilengkapi jembatan pengubung dengan ornament khas Purwakarta.

Selain kolam dan jembatan, di lokasi ini pihak DKM juga menambahkan air mancur menari yang tak kalah indah dibanding yang ada di Taman Sribaduga (Situ Buleud). Yang membedakan, Air mancur menari di lokasi ini akan beroperasi setiap adzan berkumandang.

Keberadaan air mancur menari ini, ternyata cukup menarik perhatian public. Tak heran, sejak diresmikan pada akhir tahun kemarin, banyak kalangan memanfaatkan lokasi ini untuk beribadah sekaligus berwisata.

“Alhamdulillah, yang biasanya jamaah salat magrib hanya 10 orang, sekarang safnya jadi penuh,” ujar Ketua DKM sekaligus penggagas Tajug Gede Cilodong Dedi Mulyadi.

Dedi menjelaskan, penataan kawasan Tajug Gede Cilodong tidak saja difokuskan pada fungsi tempat peribadahan besar. Tapi, didorong juga terhadap nilai konservasi, edukasi, budaya, pertanian hingga rekreasi.

“Lokai ini menjadi kawasan serba guna. Di depan, kita punya Masjid besar berikut ruang pertemuan. Di belakangnya, kita bangun kawasan hijau, taman dan sarana edukasi pertanian dan budaya. Di bagian depan, kita juga bangun taman indah berikut air mancurnya,” pungkasnya. (Asep Mulyana)