Pantai Cijeruk Garut Terus Telan Korban Jiwa, Tanggung Jawab Siapa?

Pantai Cijeruk Garut Terus Telan Korban Jiwa, Tanggung Jawab Siapa?
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut- Kecelakaan laut menelan tiga korban tewas di kawasan pantai Cijeruk Desa Sagara Kecamatan Cibalong selatan Kabupaten Garut kembali memunculkan lagu lama. Siapa yang bertanggung jawab?

Sesuai ketentuan, kawasan pantai Cijeruk di Desa Sagara itu merupakan bagian dari Cagar Alam (CA) Hutan Sancang terletak di pantai selatan Garut, selain Desa Sancang, Karyamukti, dan Desa Karyasari. Jelas disebutkan terlarang dimasuki sembarangan.

Faktanya, di kawasan pantai Cijeruk ada aktivitas wisata. Pantai berombak besar tersebut  kerap kali dikunjungi wisatawan. Padahal di kawasan tersebut hampir setiap tahun terjadi kecelakaan laut dengan menelan korban jiwa.

Di lokasi menuju kawasan pantai Cijeruk bahkan terdapat bangunan seperti gerbang kawasan bertulisan besar ‘Taman Wisata Pantai Cijeruk Indah’ lengkap dengan pos retribusi tiket pengunjung yang disebut-sebut dibangun Pemkab Garut.

Pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat melalui Seksi Wilayah V Garut sendiri selaku pemangku kawasan mengklaim sejak lama pihaknya menegaskan pantai Cijeruk bukan obyek wisata, dan terlarang dikunjungi, kecuali membekali surat ijin dengan ketentuan persyaratan ketat. Spanduk pelarangan tersebut pun selalu dipasang persis di batas ‘pintu’ masuk kawasan.

“Tapi kami tak bisa bertindak terlalu jauh atas adanya aktivitas warga di sana. Meski begitu, ketika ada laka laut, kami juga tak bisa lepas tangan. Petugas kami bersama pihak lainnya juga tetap turun membantu pencarian, dan evakuasi korban,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut Dodi Arisandi, Selasa (14/1/2020).

Dia menyebutkan, pihaknya segera menggelar pertemuan dengan masyarakat sekitar kawasan CA Sancang, dan Pemkab Garut serta pihak lain berkaitan guna membahas persoalan sekitar kawasan CA Sancang, khususnya pantai Cijeruk. Hal itu dilakukan guna mencari solusi terbaik atas pengelolaan pelestarian CA Sancang dengan kebutuhan masyarakat akan potensi ekonomi yang dapat diperoleh.

Di pihak lainnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Garut mengelak bila pantai Cijeruk termasuk daerah tujuan wisata yang direkomendasikan.

Selain status kawasan CA di bawah pemangkuan BBKSDA, ombak laut di pantai tersebut yang terbilang besar bisa mencapai ketinggian dua meter juga sangat berbahaya bagi keselamatan. Sehingga di sana juga dipasang papan peringatan larangan berenang. Kendati diakui pihaknya turut membidani, dan membina adanya personil balawista (Badan Penyelamat Wisata Tirta) di kawasan pantai Cijeruk.

“Yang mengelola wisata di sana itu desa setempat, dan tak ada retribusi masuk ke pemerintah daerah. Kami tak bisa masuk, tapi juga tak bisa lepas tangan begitu saja dengan adanya aktivitas wisata tersebut. Makanya, kami sempat tenaga balawista dari warga setempat untuk mencegah, dan menangani kalau terjadi laka laut. Namun sewaktu kejadian kemarin itu, mereka sedang tak berada di tempat,” kata Kepala Disparbud Garut Budi Gan Gan didampingi Kepala Seksi Industri Pariwisata Rana.

Namun begitu, Budi Gan Gan menyebutkan, pihaknya akan mengusulkan kepada BBKSDA agar pantai Cijeruk ditutup sementara. Pemkab Garut sendiri akan mengusulkan perubahan status pantai Cijeruk dari CA menjadi Taman Wisata Alam (TWA) agar dapat dimanfaatkan untuk aktivitas wisata.

INILAH mencatat, kendati Disparbud mengklaim tak merekomendasikan pantai Cijeruk sebagai objek wisata, beberapa waktu tahun lalu, Disparbud sempat keliru mempromosikan kawasan tersebut sebagai dari di antara 30 obyek wisata unggulan di Garut.

Hal itu terpampang pada laman resmi garutkab.go.id. Disebutkan, terdapat sejumlah aktivitas wisata dapat dikembangkan di sana, antara lain tracking, fotografi, menelusuri hutan, penelitian ekosistem alam, memancing, berkemah, dan aktivitas-aktivitas tak  tidak merusak,dan mengganggu ekosistem hutan.(zainulmukhtar)

Catatan:

Laka laut di pantai Cijeruk pada 12 Januari 2020 menelan tiga korban jiwa, yakni Slamet (47) asal Kampung Warung Mangga RT 01 RW 01 Desa Panunggangan Kecamatan Pinang Kota Tangerang, Supriadi (46) warga Cisoka Perum Bukit Gading Permai Tangerang, dan Rusnita (33) warga Kampung Ciakar RT 03 RW 04 Desa Cileles Kecamatan Tigaraksa Kabupaten Tangerang.

Pada 12 Mei 2019, laka laut menelan dua korban jiwa warga Kampung Sorog Ciniti Desa Sagara, Surya Dawla (10), dan Hisan Mubarok (20).

Pada 19 Desember 2018, laka laut pantai Cijeruk menelan satu korban jiwa, Nasukh Rasidin (20) warga Kampung/Desa Cipinang Cimaung Soreang Kabupaten Bandung .