Atasi Banjir, Emil: Dana Rp10 Triliun Fokus di Hulu

Atasi Banjir, Emil: Dana Rp10 Triliun Fokus di Hulu
foto: Humas Pemprov Jabar

INILAH, Bandung- Bandung-Penataan dan pengendalian banjir Jawa Barat mayoritas akan dilakukan di wilayah hulu pada 2020 ini. Hal tersebut sesuai alokasi anggaran dari pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menilai dengan begitu pengendalian banjir lewat penataan sungai dan pembangunan waduk pada sejumlah lokasi di Jawa Barat akan berfungsi efektif.

"Mayoritas (2020) di hulu, nggak bisa semuanya. Artinya dari dana Rp10 triliun itu focus dulu di hulunya,” katanya di Bandung, Rabu (15/1/2019).

Adapun fokus pengendalian dan penataan sumber daya air akan bergeser ke hilir pada 2021 nanti. Hal itu menyusul banyaknya laporan penahan air yang jebol.

Emil -sapaan Ridwan Kamil- mencontohkan Muara Gembong, Bekasi yang akan jadi salah satu fokus pada tahun depan. 

“Kan desanya kebanjiran, karena nggak ada tanggul. Sehingga terkikis air laut,” katanya.

Anggaran Rp10 triliun untuk penataan dan pengendalian banjir tersebut mayoritas berasal dari Kementerian PUPR. Terbesar akan digunakan untuk penuntasan Waduk Ciawi dan Sukamahi, Bogor. Dua waduk yang bisa mengendalikan 30% air ke Jakarta itu nilainya mencapai Rp3,9 triliun. 

“Rp1,5 triliun untuk pembebasan lahan, Rp1,4 triliun konstruksi,” katanya.

Dia menambahkan, untuk pembangunan Bendungan Sukamahi dan Ciawi pun akan terus dikebut. Di mana saat ini progresnya mencapai hampir 50 persen. 

"Kalau semua ini lancar, semua isu banjir yang mengemuka diawal tahun 2020 ini bisa kita kendalikan, Oleh karena itu, kita hadir memonitor agar kami pemimpin memahami logika engineering-nya sehingga bisa disampaikan ke masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami," paparnya. 
 
Selanjutnya pihaknya juga akan membuat bendungan Cikeas-Cileungsi guna mengendalikan banjir Bekasi dengan alokasi Rp4,6 triliun. Sisanya, pihaknya saat ini tengah menuntaskan bendungan Cibeet, Bekasi yang menyebabkan banjir Karawang. 

“Sungai Cibeet itu bendungannya sudah siap, tapi masih ada protes warga. Kita akan rapatkan, Kamis (16/1) nilainya Rp800 miliar,” tuturnya.

Sementara anggaran lainnya, dia mengaku, bakal difokuskan ke pembangunan kolam retensi Andir yang saat ini masih proses lelang dan penuntasan Sodetan Cisangkuy (floodway) Banjaran, Kabupaten Bandung pada Oktober mendatang. 

“Yang tadinya Cisangkuy ini memuntahkan air ke Citarum Dayeuhkolot sekarang tinggal lima persen karena Dayeuhkolot tidak dilewati Cisangkuy lagi,” paparnya.
 
Menurutnya proyek fisik yang dilakukan PUPR seperti Terowongan Nanjung di Curug Jompong, Margaasih, Kabupaten Bandung, yang sudah bisa dioperasikan telah efektif mengatasi banjir di wilayah Bandung Raya, terutama Bandung Selatan.
 
"Jadi waktu kejadian banjir di Jabodetabek, di Bandung Raya tidak ada berita (banjir) yang luar biasa. Karena selama ini air yang selalu ngumpul di titik-titik itu berhasil dialirkan dengan cepat karena dioperasikannya dua terowongan di Curug Jompong," katanya. (Riantonurdiansyah)