Pentingnya Pancasila bagi “Anak Zaman Now”

Pentingnya Pancasila bagi “Anak Zaman Now”
Anggi Fitri Fauziah, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang. (istimewa)

Pancasila merupakan pijakan paling penting dan utama dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat. Terjaganya persatuan bangsa Indonesia hanya bisa terwujud selama Pancasila masih menjadi landasannya.

Hal itu pernah diungkapkan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud MD dalam siaran pers diskusi “Pancasila di Zamanku” yang diselenggarakan oleh Bakti Pendidikan Djarum Foundation bekerja sama dengan Universitas 45 Yogyakarta dan Solidaritas Anak Proklamasi Bangsa (Sabang), di Yogyakarta, Sabtu (3/2/2018).

“Pancasila menjadi kesadaran filsafat hukum dan sumber kesadaran berbangsa dan bernegara, Pancasila itu ideologi yang mempersatukan,” ujar Profesor Hukum Tata Negara di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

“Oleh karena itu, nilai-nilai kearifan Pancasila dipandang perlu dibumikan kembali di tengah-tengah kaum muda untuk menguatkan semangat persatuan,” tambahnya.

Prof Mahfud MD juga mengingatkan kembali tentang potensi perpecahan jika generasi muda saat ini tidak lagi merefleksikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Adanya perpecahan bangsa itu, bukan tanpa sebab. Bersyukur bangsa Indonesia memiliki asas pemersatu bangsa (national cohesion) yang terbentuk secara alamiah dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Lihat saja pada zaman Majapahit, Mpu Tantular di dalam Kitab Sutasoma telah menuliskan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mngrwa yang mengisahkan bahwa pada masa itu tidak ada perselisihan sedikitpun yang disebabkan perbedaan baik agama maupun suku bangsa.

Tentunya, perpecahan seperti negara-negara lain tidak kita inginkan terjadi di negara yang kita cintai ini. Tanggung jawab ini terletak pada kita semua, terlebih pada bahu dan pundak para generasi muda yang hidup di zaman now atau para generasi milenial.

Generasi milenial atau generasi Y (teori William Straus dan Neil Howe) yang saat ini berumur antara 18-36 tahun, merupakan generasi di usia produktif. Generasi yang akan memainkan peranan penting dalam kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keunggulan generasi ini memiliki kreativitas tinggi, penuh percaya diri serta terkoneksi antara satu dengan lainnya. Namun, karena hidup di era yang serba otomatis, generasi cenderung menginginkan sesuatu yang serba instan dan sangat gampang dipengaruhi.

Hal ini yang menjadi titik kritis bagi masa depan negara dan bangsa kita. Era komunikasi terbukti memberi jaminan akses dan kecepatan memperoleh informasi. Akan tetapi, acapkali menciptakan jarak serta membuat tidak komunikatif, bahkan berujung dengan rusaknya hubungan interpersonal.

Teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah perang konvensional menjadi perang modern dengan menggunakan teknologi, media massa, internet (cyber war). Sasarannya jelas yaitu ketahanan ekonomi, pertahanan dan keamanan, budaya, ideologi, lingkungan, politik, karakter dan masih banyak lagi.

Disadari atau tidak, banyak pihak yang sepertinya tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang besar dan hebat. Kita sering menerima gempuran dan pola peperangan melalui F-7 (food, fashion, film dan fantasi, filosofi dan finansial).

Serangan terhadap filosofi dan finansial ialah hal yang paling mengkhawatirkan. Serangan terhadap filosofi yang paling mengkhawatirkan yang merupakan bentuk perang ideologi dan pikiran agar terjebak pada pola perang ideologi dan pikiran agar terjebak pada pola ideologi liberal, kapitalis, sosialis, dan radikal.

“Itu (radikalisme) harus ditangkal dengan Pancasila sebagai ideologi pemersatu ikatan kita sebagai bangsa Indonesia,” kata Prof. Mahfud MD.

Hal tersebut juga diucapkan oleh Inayah Wahid, putri bungsu Presiden Indonesia keempat KH Abdurrahman Wahid, mengatakan Pancasila adalah intisari dari semua nilai-nilai kearifan yang bersifat universal sehingga sampai kapan tidak akan ketinggalan zaman, termasuk di tengah generasi milenial sekarang ini.

“Selama ada manusia dan ada kemanusiaan, Pancasila akan selalu relevan, karena Pancasila selalu bersumber dari nilai-nilai kebaikan universal sehingga akan selalu sejalan dengan agama apa pun,” ujar Inayah.

Dari kalangan anak muda dan artis, Tantri Kotak mengaku melihat minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila saat ini bisa membuat generasi muda semakin individualis dan tidak mempunyai pegangan di tengah arus informasi global.

Oleh karena itu, Tantri mengajak anak-anak muda agar terus berkarya dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan mereka. “Agar semangat nasionalisme kita jangan mudah goyah,” kata Tantri. (sur)

Oleh: Anggi Fitri Fauziah

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang