Proyek SMPN 1 Plered Kabupaten Cirebon Mangkrak di Tengah Jalan

Proyek SMPN 1 Plered Kabupaten Cirebon Mangkrak di Tengah Jalan
Foto: Maman Suharman

INILAH, Cirebon - Proyek pembangunan dua ruang kelas baru di SMPN 1 Plered Kabupaten Cirebon, terbengkai. Pihak rekanan belum sanggup merampungkan proyek bernilai setengah miliar itu.

"Mau bagaimana lagi. Saya sudah mengajukan adendum sampai tanggal 10 Januari, tapi pihak Disdik menolak," kata Amsor, rekanan yang mengerjakan proyek tersebut, jumat (17/1/2020) lewat sambungan telepon selulernya.

Amsor juga mengeluhkan waktu pekerjaan yang hanya 45 hari kerja, dan selesai kontrak tanggal 28 Desember 2019. Menurutnya, waktu pekerjaan sangat mepet, sementara banyak kendala dilapangan, termasuk distribusi material yang sangat sulit.

"Masuk materialnya susah mas. Kalau saja adendum disetujui, saya jamin pekerjaan selesai. Saya bukan tidak bertanggung jawab, tapi dinas memutuskan seperti itu," ucapnya.

Sementara anggota komisi III DPRD Kabupaten Cirebon, Anton Maulana, mengaku kecewa dengan kinerja rekanan yang mengerjakan proyek tersebut. Menurut Anton, apapun alasannya rekanan harus siap dengan segala konsekwensi dilapangan. Alasan apapun, bukan menjadi kendala, karena setelah menerima SPK, pekerjaan harus selesai waktu.

"Ini berhubungan dengan persoalan pendidikan. Gedung sekolah itu mau dipakai siswa. Sekarang malah terbengkalai dengan berbagai macam alasan. Ini tidak bisa dibiarkan," jelas Anton.

Anton juga menilai, ada ketidak beresan perencanaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon. Kalau saja waktunya tidak mepet, besar kemungkinan pekerjaan bisa selesai. Sementara tahun ini, anggarannya diajukan pada anggaran rubahan, sekitar akhir tahunan. Hal inilah yang membuat kondisi bangunan kemungkinan akan mengalami kerusakan lagi.

"Ini kan anggaran akhir tahun. Kalau diajukan sekarang untuk anggaran murni, mana bisa. Pasti akan rusak lagi, dan ini tanggung jawab dinas. Komisi III dalam waktu dekat akan melakukan sidak," ancam Anton.

Sementara, Ketua Gerakan Mahasiswa Penyelamat Reformasi (GMPR), M. Roji mengaku tidak sia-sia, hasil temuannya dilapangan direspon komisi III. Menurut Roji, Harus ada efek jera kepada rekanan maupun Disdik Kabupaten Cirebon, karena diduga sudah menyalah gunakan anggaran. Perencanaan yang tidak matang, akhirnya merugikan semua pihak, termasuk proses belajar mengajar.

"Harus ada efek jera kepada pihak terkait. Masa rekanan dan konsuktan tidak bisa membaca progres, dan tidak dapat menyelesaikan pekerjaan. Ini uang negara, dan jangan dibuat mainan lah. Harus ada pertanggung jawaban secara hukum," tukas Roji. (maman suharman).