Waspada, Seluruh Kecamatan di Purwakarta Endemik DBD

Waspada, Seluruh Kecamatan di Purwakarta Endemik DBD
Ilustrasi (net)

INILAH, Purwakarta - Pemkab Purwakarta mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif mewaspadai penyebaran penyakit di pergantian musim ini. Salah satunya, penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Deni Darmawan menuturkan, hampir seluruh kecamatan yang ada di wilayah kerjanya merupakan daerah endemik DBD sehingga hal itu harus diantisipasi bersama.

"Dalam upaya antisipasi ini perlu keterlibatan semua pihak. Terutama peran serta masyarakat," ujar Deni kepada INILAH, Jumat (17/1/2020).

Deni menjelaskan, di awal tahun ini pihaknya telah menerima laporan sudah ada beberapa warga yang terjangkit DBD. Pihaknya memprediksi, selama musim hujan ini jumlah penderita dipastikan akan terus meningkat.

Menurut dia, meningkatnya penyebaran DBD ini bisa diakibatkan perubahan cuaca. Pasalnya, musim hujan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya penderita DBD. "Dari laporan yang masuk ke kami, sudah ada sekitar 20 orang yang terkena DBD. Satu orang diantarnya dilaporkan meninggal dunia," jelas dia.

Namun demikian, kata dia, untuk saat ini 20 orang tersebut statusnya masih sebagai suspect DBD. Karena, sebelum dinyatakan positif pasien tersebut harus terlebih dahulu diuji di laboratorium untuk mendapat kepastian apakah terjangkit DBD atau tidak.

Sebelumnya, Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika menuturkan, DBD merupakan penyakit cukup serius dan termasuk kasus medis besar yang menjadi perhatian utama di beberapa negara berkembang. Sehingga, menurutnya, hal ini harus diantisipasi. "Dalam pengendalian dan pencegahan penyebaran DBD ini diperlukan upaya efektif," ujar Anne.

Adapun hal paling efektif untuk antisipasi DBD ini, menurut Anne, harus bersifat antisipatif. Yakni, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan pola hidup bersih dan sehat.

Misalnya, tidak membiarkan terlalu lama adanya genangan pada semua benda yang bisa menampung air sementara. Seperti, bak mandi atau tempat-tempat penampungan air untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, tempat-tempat tersebut harus secara rutin dikuras dan ditutup.

Sebenarnya, lanjut Anne, penyebaran penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti itu bukan hanya faktor perubahan cuaca saja. Tapi, bisa juga akibat pola hidup masyarakat yang kurang sehat.

Untuk itu, dalam hal ini pihaknya berpesan supaya masyarakat kembali menggalakan bebersih dan lebih meningkatkan pola hidup bersih dan sehat. Karena, menurutnya, untuk pencegahan DBD tidak hanya cukup dilakukan dengan pengasapan. (asep mulyana)