Cerminkan Toleransi, Bima Harapkan CGM 2020 Berjalan Baik

Cerminkan Toleransi, Bima Harapkan CGM 2020 Berjalan Baik
foto: INILAH/Rizky Mauludi

INILAH, Bogor - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto berharap pelaksanaan Cap Go Meh (CGM) 2020 atau Bogor Street Festival (BSF) 2020 berjalan dengan baik karena ini merupakan ajang budaya dan bukan prosesi keagamaan. Hal itu disampaikan Bima Arya usai kegiatan dengan Kick Andy off air, di kampus Insitut Bisnis dan Informatika (IBI) Kesatuan Kota Bogor pada Sabtu (18/1/2020) sore.

"Ya, tahun ini diharapkan berjalan dengan baik, tahun lalu akhirnya semua sama-sama. Yang menolak bisa memahami bawah ini adalah proses budaya, ini proses kesenian. Jadi bukan prosesi agama, karena memberikan manfaat dalam arti kesejahteraan perekonomian. Bayangkan saja ada 100 ribu orang yang kemudian akan berbelanja, ada ribuan orang juga yang datang dari luar kota. Bagi pelaku Usaha Micro, Kecil dan Menengah (UMKM) atau Pedagang Kaki Lima (PKL) ini kan barokah. Terpenting saat ini harus diatur supaya tertib saja," ungkap Bima.

Bima melanjutkan, insya Allah semua pesan-pesan keberagaman akan disampaikan, hingga tidak ada lagi yang menyebabkan Kota Bogor dianggap intoleran karena ada penolakan-penolakan. Dirinya menyakini mayoritas masyarakat butuhnya toleran. Karena setiap hari banyak cerita inspirasi dari Suryakencana sebagai tempat pelaksanaan CGM, dimana gereja dan masjid berdampingan, kemudian di perumahan-perumahan juga biasa begitu.

"Sebenarnya banyak cerita-cerita yang inspiratif di Kota Bogor, jangan sampai itu ada satu kasus kemudian merepresentasikan Kota Bogor. Karena CGM ini menjadi event nasional, hingga secara teknis akan diperbaiki dan tentunya lebih meriah, lebih tertib dan pastinya ini akan memberikan inspirasi tentang artinya bersama dalam beragam di Kota Bogor," tambahnya.

Sementara itu, putri presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid yaitu Yenny Wahid mengatakan, dirinya sangat menghargai semua upaya untuk menguatkan rasa kebangsaan dan terutama upaya untuk terus menguatkan rasa persatuan ditengah begitu banyaknya perbedaan masyarakat Indonesia. Masyarakat harus disadarkan bahwa perbedaan kebhinekaan adalah kekuatan bangsa Indonesia, tentunya harus bangga juga bersyukur mempunyai kebhinekaan.

"Karena banyak negara di dunia sekarang ini sedang bermasalah karena mereka tidak mampu mengelola perbedaan dimasyarakatnya. Indonesia sendiri sebetulnya sudah punya tradisi untuk toleransi, diantaranya tradisi gotong-royong dan tradisi saling membantu satu sama lain, tradisi ini harus kita kuat kan lagi. Banyak negara belajar ke Indonesia karena bisa tetap rukun serta punya slogan Bhinneka Tunggal Ika," tuturnya.

Yenny menegaskan, karena itu warga negara Indonesia justru harus menjadi inspirasi bagi warga negara dunia lainnya, caranya adalah dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang terus menguat kan nilai-nilai toleransi, nilai keberagaman serta nilai pendidikan di tengah-tengah masyarakat. Jadi dengan adanya data intoleransi di dunia juga Indonesia maka perlu ada upaya terus-menerus untuk melakukan penyadaran.

"Kita harus mempertahankan toleransi, harus melakukan tindakan-tindakan secara aktif untuk mempertahankan ke bhinekaan hingga terus menguatkan rasa persatuan dan kesatuan. Seperti di Kota Bogor ini, acara perayaan budaya yang diikuti oleh seluruh warga masyarakat, apapun latar belakang budaya dan agama adalah sebuah upaya untuk terus menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Saya sangat mengapresiasi sekali bahwa masyarakat dan pemerintah Kota Bogor memilih untuk terus melakukan upaya upaya menguatkan rasa kebersamaan dalam CGM," tegasnya.

Ketua Panitia Bogor Street Fest CGM 2020
Arifin Himawan mengatakan, CGM 2020 dipersiapkan terus, karena waktu pelaksanaan semakin dekat yaitu tanggal 8 Februari 2020, adanya acara di IBI Kesatuan merupakan salah satu bagian yang penting untuk melihat bahwa didalam membangun kebersamaan toleransi dan persatuan harus dilakukan terus menerus. Tadi dari Bandung peace generation kang Ivan memberikan contoh alangkah indahnya kalau CGM terus bisa diimplementasikan di Kota Bogor.

"Tentunya harapan kedepannya apa yang dikerjakan oleh semua pihak bisa terus terbangun dengan baik, terutama teman-teman media yang menurut saya itu menjadi ujung tombak bagaimana memberikan, menyampaikan atau meneruskan inspirasi yang tadi sama-sama saksikan soal CGM," terang pria yang akrab disapa Ahim.

Ahim membeberkan, kalau melihat fakta dan realita, bahwa Kota Bogor intoleran berdasarkan survei, yang disurvei itu siapa?. Karena kalau bicara yang disurvei dirinya, maka dia akan mengatakan bahwa Kota Bogor toleransi, karena masyarakat merasa tidak ada perbedaan antara muslim dan non muslim. Sesuai yang dikatakan Wali Kota Bogor Bima Arya, keberadaan Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) di Kota Bogor merupakan cermin satu wujud nyata toleransi.

"Selain itu, dalam acara CGM di Kota Bogor itu ada enam tokoh agama berdoa, itu juga menunjukkan suatu toleransi yang baik. Ya, mungkin ada pekerjaan rumah besar yang belum tuntas sampai hari ini, yaitu salah satu perizinan rumah ibadah karena ada pro dan kontra. Saya rasa itu bisa diselesaikan, tapi itu tidak bisa digeneralisasi bawa Bogor adalah kota intoleransi," pungkasnya. (Rizky Mauludi)