Memaafkan Itu Indah

Memaafkan Itu Indah
Ilustrasi/Net

Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 134)

Dalam ayat-Nya yang lain Allah berfirman, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nuur [24]: 22)

Saudaraku, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas terakait hubungan dengan orang lain. Sedangkan orang lain itu tentu tidak sama karakter, tabiat, sifatnya dengan kita. Oleh karena itu, tidak heran jika kita kadang merasa tidak sesuai, tidak suka, atau bahkan tersinggung dengan salah satu atau sebagian kebiasaan mereka itu. Bahkan karena perbedaan-perbedaan tersebut, tidak jarang juga kita dibuat marah. 

Begitulah kehidupan sosial kita. Ini adalah kenyataan hidup kita sebagai makhluk sosial. Segala perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya adalah salah satu bukti kebesaran Allah SWT. Setiap makhluk, setiap manusia diciptakan secara spesial oleh-Nya. Tidak ada yang sama persis, bahkan kakak-adik yang kembar identik sekali pun. 

Kita diajarkan untuk bisa mengendalikan amarah. Dan, kita juga diajarkan untuk berlapang dada atas kesalahan orang lain terhadap kita kemudian memaafkannya. Ayat kedua tadi, yaitu surah an-Nuur ayat 22 memiliki latar belakang ketersinggungan Abu Bakar Ash atas berita bohong yang menimpa puterinya yang juga istri Rasulullah, yaitu Siti Aisyah. Abu Bakar bersumpah tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya yang menyebarkan berita bohong itu. Namun, Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah agar Abu Bakar memaafkan mereka. Masya Allah. 

Saudaraku, yang terpenting dari perbuatan buruk orang lain terhadap kita adalah agar menjadi bahan tafakur. Sikap terbaik yang penting untuk dilakukan ketika menghadapi hal tersebut adalah segera memeriksa diri sendiri, barangkali kita pernah berbuat buruk kepada orang lain. Sikap yang baik selanjutnya adalah memaafkannya sembari berikhtiar agar keburukan tersebut tidak terulang. 

Kita sudah seringkali diingatkan setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya, dan yang berbahaya bukanlah sikap buruk orang lain terhadap kita, tetapi sikap buruk kita kepada orang lain. Rasulullah adalah sebaik-baiknya pemaaf. Dan, sifat pemaaf sama sekali tidak menunjukkan kelemahan dan kehinaan seseorang, melainkan sebaliknya menunjukkan kekuatan dan kemuliaan akhlak seseorang.

Allah SWT berfirman, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf..” (QS. al-A’raf [7]: 199)

Dalam kehidupan sehari-hari kita akan bertemu dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Baik itu kesalahan yang berkaitan langsung terhadap kita maupun yang tidak. Boleh jadi di antara kesalahan orang lain itu, ada yang membuat kita tersinggung atau kesal. Jika kita menuruti hawa nafsu, maka keadaan itu bisa saja berbuntut panjang, menjadi perselisihan, perkelahian hingga merenggangkan silaturahim. Namun, orang yang beriman kepada Allah tidak akan menuruti jalan yang ini. 

Orang yang beriman kepada Allah akan memilih jalan mengendalikan hawa nafsunya, meredakan amarahnya, dan memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya. Sehingga pertemanan, persaudaraan tetap terjaga, tali silaturahim tetap terjalin. 

Memaafkan bukan urusan yang ringan. Oleh karena itu, memaafkan hanya bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi yang kuat sejati. Kuat mengendalikan hawa nafsu, kuat mengontrol amarah dan meredam dendam. Memaafkan adalah kemampuan yang hanya dimiliki orang beriman, karena ia yakin Allah pasti benar. Membalas kejahatan dengan kebaikan justru membangkitkan kebaikan yang jauh lebih besar. Sebaliknya, membalas keburukan dengan keburukan hanya menimbulkan keburukan yang lebih besar lagi. 

Mari kita belajar kepada anak-anak, yang seperti apa pun orangtua mereka memarahi, mereka tetap mendekat dan memeluk orangtua mereka dengan penuh kasih dan cinta. Boleh jadi karena anak-anak hatinya masih bersih, tiada dendam. Tapi justru di situlah cermin kita belajar, yaitu kemampuan untuk memaafkan, berlapang dada, mengasihi hanya lahir dari hati yang bersih dan bening. Dan, hati yang bersih ada sumber kekuatan, karena memaafkan hanya dimiliki oleh orang-orang yang kuat, bukan kuat fisiknya tapi kuat jiwanya. 

Rasulullah saw adalah suri teladan terbaik. Disakiti seperti apa pun, hatinya senantiasa jauh dari dendam. Beliau senantiasa memaafkan dan membalasnya dengan kebaikan. Sehingga orang yang awalnya berbuat buruk, menjadi berbalik menjadi sahabat yang setia, mendapat hidayah, dan masuk kepada barisan orang-orang yang beriman. Masya Allah.