Bandar Dapat Insentif BEI, Bagaimana Nasib Ritel?

Bandar Dapat Insentif BEI, Bagaimana Nasib Ritel?
Inilahcom

INIALH, Jakarta - BEI telah mengeluarkan statement bahwa pada semeter kedua tahun 2020 ini memberikan untuk insentif kepada para bandar saham atau Market Maker (MM) dengan menggratiskan fee transaksi.

Sama seperti insentif-insentif lainnya yang diberikan pemerintah, insentif ini bertujuan untuk memicu pertumbuhan pasar modal di Indonesia. Tujuannya supaya Sang MM di bursa bisa kembali lebih aktif menjalankan aksinya di bursa saham Indonesia.

Menurut analis saham, Argha J Karo Karo, kebijakan untuk memberikan insentif ini merupakan langkah maju yang dilakukan oleh otoritas bursa dan dikeluarkan di waktu yang tepat. "Karena kita tahu hebohnya kasus Jiwasraya dan Asabri, seakan-akan memberikan pukulan tersendiri pada dunia perbandaran saham di Indonesia," katanya seperti mengutip dari creative.trader.com.

Hal ini menyebabkan terganggunya aktivitas beberapa MM di bursa. Buktnya di awal tahun ini aksi mereka menurun drastis. Kondisi ini menyebabkan terjadi penurunan tajam nilai perdagangan. Bahkan penurunan nilai transaksi hampir mencapai 30% dibanding transaksi pada periode yang sama pada tahun lalu.

"Otoritas bursa tentunya menyadari jika dibiarkan kejadian-kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir akan menyebabkan rusaknya keseimbangan di bursa kita."

Karena di saat jumlah investor ritel terus meningkat, jumlah saham terus meningkat, lalu kenapa jumlah Bandar yang notabene bertugas untuk mengatur pergerakan harga saham-saham tersebut malah terkesan mau dikurangi?

Analoginya BEI terus memicu pertumbuhan Kendaraan (emiten), memicu pertumbuhan jumlah penumpang (investor ritel) tapi malah mengurangi jumlah Driver (Bandar). Kalau itu terjadi tentunya itu akan merusak stabilitas di bursa. "Karena tidak peduli seberapa banyak kendaraan, atau seberapa banyak penumpang, kalau pengemudinya tidak ada, semuanya kendaraannya akan mogok," jelasnya.

" seperti sudah terbukti di awal tahun ini meskipun jumlah investor ritel terus bertumbuh, jumlah emiten juga terus bertumbuh, ketika pengemudi / MM-nya mogok, otomatis transaksi di bursa kita juga turun drastis, dan beberapa saham yang bandarnya sedang bermasalah juga ikut mogok, sebagian bahkan sengaja di parkit bandarnya di 50."

Dengan alasan itulah BEI memberikan insentif pada para Market Maker tentunya sudah tepat. Sebab BEI secara tidak langsung menyampaikan pesan kepada para Bandar atau Market Maker bahwa sama seperti Bursa mendukung pertambahan Investor Ritel (IR) di bursa dengan kampanye Yuk Nabung Saham. Atau mendukung pertambahan jumlah emiten dengan memudahkan semua perusahaan untuk melakukan IPO. "Bursa kita juga mendukung keberadaan Bandar dengan memberikan insentif kepada Market Maker," katanya.

Langkah BEI untuk memberikan insentif pada market maker juga merupakan langkah berani dan patut dipuji. Karena bagi banyak orang sosok Bandar/Market Maker adalah sosok yang sering kali dianggap sebagai penjahat, terutama bagi para investor ritel yang sering menderita kerugian dalam trading.

Dan karena kita tahu mayoritas investor di bursa saham mengalami kerugian, jadi sangatlah wajar kalau lebih banyak orang yang membenci bandar, daripada yang menyadari pentingnya keberadaan Bandar.

Namun tentunya tugas dari regulator (BEI) bukanlah untuk menjaga perasaan semua investor ritel, atau memastikan supaya semua investor ritel yang trading di pasar modal mendapatkan keuntungan. Karena pada akhirnya ketika ada yang beli saham, harus ada yang jual juga, jadi wajar kalau ketika ada yang menang, di waktu yang sama ada juga yang kalah.

Jadi untung atau rugi adalah hal yang biasa dan harus dipahami setiap investor baik Bandar atau Ritel sebagai risiko dalam bertransaksi di bursa saham.

Tugas regulator adalah menjaga kelangsungan dan ekosistem di bursa dan memberlakukan peraturan yang sama bagi semua investor, baik ritel atau bandar. Hanya karena ada banyak investor ritel yang belum mengerti Ilmu Bandarmologi, bukan berarti sosok Bandar harus dihilangkan.

Karena bursa BEI akan lumpuh jika tidak ada Bandar, saham-saham yang terpuruk karena bandarnya krisis tersebut tidak akan bangkit lagi, kalau tidak ada Bandar yang membangkitkan. Kalau transaksi lesu, dan hanya didominasi oleh saham-saham Blue Chip yang dibandari asing, gairah market akan berkurang dan akhirnya para investor pun akan bosan karena tidak ada saham yang bergerak.

"Mereka pergi dengan sendirinya dan memilih jenis investasi yang bahkan lebih berbahaya lagi seperti Money Game, Investasi Bodong, atau yang lain," katanya. (Inilahcom)