Ternyata, Uang Suap Carsa ke Bupati Supendi dari APBD Indramayu

Ternyata, Uang Suap Carsa ke Bupati Supendi dari APBD Indramayu
Sidang kasus dugaan suap pengadaan proyek di Indramayu dengan terdakwa Carsa ES, di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (22/1/2019). (Ahmad Sayuti)

INILAH, Bandung- Uang suap yang diberikan Carsa ES kepada Bupati Indramayu nonaktif Supendi rupanya berasal dari APBD Indramayu yang dimodalkan ke BPR Karya Remaja Indramayu. Bahkan, pengajuan kredit ke BPR KR oleh Carsa pun fiktif. 

Hal itu terungkap dalam sidang kasus dugaan suap pengadaan proyek di Indramayu dengan terdakwa Carsa ES, di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (22/1/2019). 

Sidang dengan agenda kesaksian, menghadirkan  enam orang saksi, yakni Casta, Lindasari dan Mista yang ketiganya merupakan keponakan Carsa ES. Sementara tiga orang lainnya, yakni Kasubag BPR KR Fenny, Karo Marketing BPR KR Ardi, dan Dirut BPR KR Sugiyanto alias Yanto Kaper. 

Di persidangan terungkap jika uang suap yang diberikan kepada Bupati Indramayu nonaktif Supendi bersumber dari pengajuan kredit yang dilakukan Carsa ke BPR KR. Carsa mengajukan kredit atasnama orang lain diluar prosedur setelah mengetahui ada penambahan modal ke BPR KR dari Bupati Indramyu Supendi dua hari sebelumnya.

Seperti yang diutarakan Carsa. Menurutnya dia ditelpon Carsa untuk datang ke BPR KR dan menandatangani form pengajuan kredit dengan nominal Rp 1,2 miliar. Padahal dia sendiri tidak mengetahui isi dari form tersebut.

”Saya tidak tahu isinya seperti apa. Saya hanya diminta datang untuk menandatangani saja. Setelah itu pulang lagi. Uangnya kemana saya tidak tahu,” katanya.

Hal yang sama diutarakan Lindasari. Berbeda dengan Casta. Lindasari sama sekali tidak menandatangani form pengajuan kredit tersebut. Sebab saat ditelpon Carsa dirinya tidak bisa hadir lantaran baru beres melahirkan.

”Saya gak pernah datang, itu tandatangannya memang mirip. Tapi saya gak pernah menandatanganinya,” ujarnya.

Hakim ketua I Dewa Gd Suardhita pun langsung meminta saksi Lindasari maju ke meja hakim dan disodorkan selembar kertas dan balpoint untuk membubuhkan tandatangan, disaksikan langsung oleh Penuntut Umum (PU) KPK.

“Tandatangannya hampir sama. Namun, yang asli tarikannya tidak terputus,” kata PU KPK.

Sementara itu Kasubag Kredit BPR KR Indramayu Fenny mengaku dirinya hanya diperintahkan atasannya untuk mencairkan pengajuan kredit itu. Walaupun dirinya tahu pengajuan kredit fiktif, mulai dari nama debitur hingga agunan yang dijadikan jaminan.

”Anda tahu kan debiturnya hanya seorang honorer dan karyawan swasta yang punya gaji Rp 500 ribu dan Rp 1,5 juta. Apakah mungkin bisa mendapatkan kredit dengan total Rp 2,2 miliar. Ditambah agunan yang dijadikan jaminan juga milik orang lain dan tanpa melalui proses analisis,” tanya PU KPK.

”Saya hanya menuruti perintah atasan. Uang yang ngambilnya siapa saya tidak tahu, karena pencairan di kasir,” ujarnya.

”Ini kan aneh. Yang mengajukan orang lain, yang ngambil uangnya terdakwa (Carsa). Apakah ada perjanjian hitam di atas putih, atau ada instruksi langsung dari bupati,” kata PU KPK dan dijawab tidak oleh saksi.  

Mendengar pernyataan saksi, anggota Majelis Lindawati menjadi berang. Dia tidak habis pikir dengan sikap saksi sebagai Kasubag Kredit yang meloloskan pengajuan kredit tanpa melakukan survei dan melihat kebenarannya.

”Ini aneh, yang ngajuin orang lain. Nagih ke terdakwa (Carsa) tanpa ada dasar hukumnya hanya karena perintah atasan. Kalau atasan Anda nyuruh masuk ke Neraka mau gak?” tanya hakim, dan hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh saksi.

Sementara Karo Marketing BPR KR Radi saat ditanya JPU dan mejlis tampak berbelit-belit. Beberapa kali dia diancam PU KPK dan majelis dengan sumpah palsu dan diminta jujur atas keterangannya.

Menurut, Radi itu merupakan kesalahannya lantaran Carsa merupakan nasabah prioritas dan dia ditarget untuk mendapatkan nasabah.

PU KPK pun kembali menanyakan apakah dana dicairkan kepada terdakwa lantaran sebelumnya Bupati memberikan modal tambahan sebesar Rp 6 miliar, dan ada instruksi khusus untuk memberikan pinjaman ke Carsa.

”Saya tidak tahu. Saya hanya mengejar target pemasaran saja,” tandasnya. (Ahmad Sayuti)