Generasi Milenial Berperan Besar dalam Pembangunan Jabar

Generasi Milenial Berperan Besar dalam Pembangunan Jabar
Ilustrasi (agus sn)

INILAH, Bandung - Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Jawa Barat terus bergerak merealisasikan visi misi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam Mewujudkan Jabar Juara Lahir Batin melalui Inovasi dan Kolaborasi.

Khususnya di bidang keolahragaan dan kepemudaan, yakni Olahraga Juara dan Milenial Juara. Perwujudan tersebut direalisasikan dalam program yang dicanangkan yakni Jabar Future Leader (JFL). Dalam program tersebut, Dispora langsung menyeleksi ribuan pemuda milenial untuk menjadi ajudan gubernur. Ajudan yang diterima berasal dari masyarakat umum khususnya para pemuda.

“Kita menyeleksi ribuan orang pemuda yang  mendaftar ke sini, kita membuka tawaran kepada para pemuda milenial untuk menjadi ajudan gubernur, jadi ajudan itu kita terima dari umum kita bayar tetapi tidak jadi ajudan selamanya hanya beberapa hari,” ujar Kepala Bidang Layanan Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora)  Provinsi Jawa Barat Muhammad Nizar di kantor Dispora Jabar, komplek Sarana Olahraga (SOR) Arcamanik-Jabar, Kota Bandung, Senin (20/1/2020).

Nizar menuturkan, tujuannya pertama, memberikan gambaran satu keterbukaan pemerintah terhadap dunia luar, menggambarkan keterbukaan pemerintah terhadap generasi muda, itu dari sisi keterbukaan.

Kedua, para pemuda yang masuk di Jabar Future Leader ini bisa mempunyai informasi atau memberikan informasi kepada pihak luar dan masyarakat pada umumnya bagaimana sekarang keterbukaan pemerintah terhadap pihak luar agar orang bisa melihat kondisi pemerintah sekarang.

“Keuntungan menjadi ajudan gubernur adalah mendampingi gubernur, bagaimana gubernur bekerja, bagaimana gubernur bergaul dengan masyarakat, bagaimana gubernur memimpin rapat, bagaimana gubernur mengambil keputusan,” tuturnya.

Nizar menjelaskan, pemuda yang dipilih adalah para calon pemimpin masa depan. Ada 42 orang untuk tahun ini dan tahun lalu 30 orang. Para pendaftar dibatasi karena tidak mungkin banyak, gubernurnya hanya satu dan mereka mendampingi gubernur hanya 6 hari untuk berbagi pengalaman.

Bagi mereka, menjadi ajudan gubernur, jadi satu portofolio yang berarti, mendampingi orang nomor satu di Jawa Barat. Ini proses pembelajaran yang sangat baik walaupun 6 hari, mereka melihat langsung bekerja dengan gubernur, bagaimana gubernur mengambil keputusan, bagaimana bisa meneladani sikap gubernur.

“Kita berharap program yang baik itu bisa diadopsi oleh kabupaten/ kota lainnya. Jadi, kita harus memperlihatkan kepada dunia luar bahwa pemerintah saat ini sudah terbuka, tidak harus ada kecurigaan,” jelasnya.

Nizar melanjutkan, ide gubernur yang kedua adalah Jabar Innovation Fellowship (JIF), ini juga salah satu bentuk keterbukaan pemerintah kepada generasi muda, tetapi tidak dengan gubernur melainkan dengan dinas.

 

“Kita ambil 80 pemuda milenial yang terseleksi untuk dilatih dan ditempatkan di dinas-dinas selama 4 bulan untuk memberikan sumbangan pikiran, membantu program-program kedinasan, dan kita pilih orang-orang yang profesional,” ujarnya.

Dia menerangkan, para pemuda yang lolos ada yang masuk ke perencanaan, seperti kemarin ada yang ditempatkan di sini dua orang dari jurusan kebijakan publik. Mereka banyak membantu dinas di bidang regulasi melalui seleksi yang  ketat.

“Kita ingin memilih pemuda-pemuda yang punya kemauan dan keinginan, tidak mengharap gaji yang terlalu besar tapi dia ingin punya pengalaman yang berarti untuk hidupnya,” terangnya.

Lebih jauh Nizar menjelaskan, untuk mendampingi atau menjadi seorang ajudan itu hanya dibayar Rp250 ribu per hari di kali 6 hari berarti satu juta setengah, tapi dia bisa mendapatkan pengalaman yang berarti bahkan langsung mendampingi gubernur selama 24 jam.

“Ini menandakan tidak hanya di level gubernur, di dinas pun ada keterbukaan. Untuk gaji per bulannya hanya dibayar satu juta, namun banyak yang mendaftar untuk mencari pengalaman. Ada tenaga-tenaga profesional, bahkan dia sudah kerja di perusahaan dan sengaja cuti hanya untuk menjadi ajudan gubernur,” jelasnya.

Nizar mengaku, peserta yang telah terdaftar itu sampai 1.000 lebih, namun yang masuk 42 orang untuk ajudan, 80 orang untuk dinas,  kita bagi dalam dua angkatan. Media bisa membantu sosialisasi untuk penerimaan, kita sudah akan melakukan penerimaan pendaftaran.

Kemudian program selanjutnya, Jabar Innovation Summit (JIS), ini program tahunan dari gubernur,  kegiatan ini menyuguhkan inovasi-inovasi dari pemuda yang memiliki karya di Jawa Barat kemudian ditampilkan karya-karyanya.

“Kita fasilitasi seperti pameran yang di dalamnya ada pameran hasil karya pemuda yang inovatif ada talk show, penghargaan pada pemuda berprestasi. Talkshow menampilkan para para wirausahawan yang sukses. Kemudian ada juga musik dan ini merupakan acara besar dan dipastikan gubernur hadir,” ujarnya.

Dikatakan Nizar, apabila Dispora mengadakan lomba, sebelumnya ada seleksi. Khusus untuk kewirausahawan, para peserta bisa membuka laman Dispora Jabar. Di dalamnya ada berbagai informasi tentang persyaratan dari lomba kewirausahaan yang digelar, biasanya jumlah peserta yang mendaftar lumayan banyak tidak hanya dari umum, ada juga yang mendapat rekomendasi dari KNPI.

Di menceritakan, banyak potensi pemuda dari daerah, seperti di Kabupaten Bandung, Kota Bandung juga ada Cirebon, dan para pemuda berprestasi  hampir merata di Jabar. Pemuda-pemuda yang punya karya dan berprestasi tak hanya di kota besar, di daerah pinggir pun banyak pemuda kreatif, inovatif, dan berprestasi,  jangan menganggap sepele mereka. Faktanya mereka terbuka dengan era digitalisasi.

“Kita juga sudah bekerja sama dengan Komunitas Berkah Entrepreneur untuk menggelar seminar tentang kewirausahaan. Kita ingin supaya anak muda sekarang orientasinya tidak jadi pegawai, tetapi bagaimana dia bisa membuka lapangan kerja menjadi,” tegasnya. (agus sn)