Harga Cabai di Kota Cirebon Masih Sulit Terkendali

Harga Cabai di Kota Cirebon Masih Sulit Terkendali

INILAH, Cirebon- Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon, Jawa Barat, mengakui belum bisa mengintervensi atau mengendalikan harga cabai. Saat ini memang sedang terjadi kelangkaan komoditas tersebut, baik di pasar maupun petani.

"Kalau mau intervensi (harga cabai) secara besar kita belum bisa, karena juga membutuhkan modal yang tidak sedikit," kata Sekretaris TPID yang juga Asda II Perekonomian Kota Cirebon Sumanto di Cirebon, Jumat (24/1/2020).

Sumanto mengatakan TPID Kota Cirebon sudah berupaya mengenai inflasi terutama masalah cabai. Dengan cara mendirikan kampung inflasi yang terletak di beberapa kampung di Cirebon.

Namun Sumanto mengaku, adanya kampung peduli inflasi juga belum cukup untuk mengendalikan harga cabai, karena kampung ini hanya dikonsumsi warga sekitar saja.

Menurutnya untuk bisa mengintervensi harga cabai dan kebutuhan pokok lainnya terutama sayuran dibutuhkan modal yang tidak sedikit.

"Kalau kita mau intervensi besar-besaran tidak dengan cara menanam cabai, harusnya dengan membeli pendingin yang besar untuk menyimpan bawang, cabai dengan kekuatannya bisa sampai enam bulan, ini baru bisa kita mengendalikan semuanya, tapi kemampuan kita sangat terbatas," ujarnya.

Sementara Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPw BI Cirebon Sudono mengatakan kenaikan harga cabai memang sulit dikendalikan, hal ini dikarenakan terjadi secara nasional dan stok juga sudah menipis.

"Ini tidak saja di wilayah Cirebon tapi secara nasional, ditambah banyaknya penyakit yang terjadi pada tanaman cabai milik petani," katanya.

Menurutnya pasokan ke beberapa pasar yang berada di Kota Cirebon, sedang mengalami penurunan dikarenakan belum masuk masa panen dan jika adapun sedikit.

"Pasokan disini juga lagi turun, jadi harga naik dan susah dikendalikan, karena produksi juga tidak bisa digenjot seperti barang-barang manufaktur," ujarnya.

Saat ini harga cabai di pasar yang berada di wilayah Cirebon berkisar Rp90 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram, hal ini dikarenakan pasokan yang menipis. (antara)