Kolam Retensi Sirnaraga Kurangi 30 Persen Air Sungai Citepus

Kolam Retensi Sirnaraga Kurangi 30 Persen Air Sungai Citepus
INILAH, Bandung – Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung Arif Prasetya menyatakan, pembuatan kolam retensi Sirnaraga hanya sebagian kecil upaya untuk mengatasi masalah banjir. Dia memperkirakan keberadaan kolam retensi baru bisa mengendalikan sekitar 30 persen debit aliran Sungai Citepus.
 
‎Arif mengungkapkan, persoalan di Sungai Citepus terbilang pelik. Salah satunya, sungai ini menjadi bagian dari jalur utama aliran air yang turun dari kawasan Bandung bagian utara, sehingga memiliki debit air cukup besar ketika masuk ke wilayah Kota Bandung.
 
"Ini baru berapa persen yang dapat kita kurangi, belum seluruhnya bisa total, paling sekitar 30-40 persen. ‎Karena permaslaahan citepus kan kompleks ya, kita limpasan air juga. Jadi kita minimalisir dengan kolam retensi ini, dengan peninggian dan lain-lain," kata Arif di kolam retensi Sirnaraga, Kecamatan Cicendo, Bandung, Selasa (8/1/2019).
 
‎Kolam retensi Sirnaraga dibangun di lahan milik Pemkot Bandung seluas 1.792 meter persegi. Dengan memiliki kedalaman lebih dari 3 meter, kolam retensi Sirnaraga ini mampu menampung 3.335 kubik air.
 
‎Untuk membiayai pembuatan kolam retensi Sirnaraga ini, DPU Kota Bandung mengalokasikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2018 sebesar Rp. 5,4 miliar. Selain pembuatan kolam retensi Sirnaraga, anggaran tersebut juga termasuk dana untuk memperbaiki jembatan Citepus di dekat SMA 9.
 
"Pengerjaan dilakukan di 1.456,14 meter persegi dengan komposisinya yang juga disisakan untuk taman seluas 380,25 meter persegi. Sementara pembuatan kolam menggunakan lahan seluas 1.075,89 meter persegi," jelas Arif.
 
Soal teknis sistem kerja kolam retensi Sirnaraga ini, Arif menuturkan lubang tempat masuk air ke kolam retensi dibuat lebih tinggi guna menghindari sedimentasi. Kemudian tetap diberi besi untuk men‎jarng sampah yang terbawa aliran Sungai Citepus. 
 
‎"Ada yang jaga operator disiagakan di mesin pompa. Itu maksudnya untuk memperingati masyarakat kalau sudah hujan jangan bermain di dalam situ.‎ Pada saat sungai citepus naik, dia akan masuk ke situ (kolam retensi)," tambahnya.
 
Setelah menuntaskan kolam retensi ‎Sirnaraga, Arif menyatakan pada 2019 ini pihaknya akan membuat kolam serupa di Gedebage. Kolam retensi ini guna mengurangi debit air dari Sungai Cinambo yang kerap mengakibatkan banjir di dekat Pasar Gedebage.
 
Menurut Arif, kolam retensi‎ di Gedebage tersebut nantinya akan dibuat dua kali lipat lebih besar dari kolam retensi Sirnaraga. Begitupun dengan anggaran yang dialokasikannya pun menjadi lebih tinggi, yakni senilai Rp10 miliar.
 
"‎Itu akan menahan banjir dari Cinambo lama, yang disebelahnya pasar gedebage. Luasnya kira-kira hampir 2.000-3.000 meter persegi, dua kali lipat dari ini menampung air hingga 9 ribu meter kubik‎. 2019 kita sudah mulai lelang di Balap (Badan Layanan Pengadaan), lagi disiapkan PPTK dan PPK," terangnya.
 
Setelah menuntaskan kolam retensi di Gedebage, Arif mengungkapkan bahwa akan kembali dibuatkan kolam retensi di Sirnaraga. Untuk kolam retensi Sirnaraga kedua ini fisiknya hampir sama, namun lokasinya berada di hulu kolam retensi pertama.
 
‎"‎Kedua di atas itu sekitar 1.700-1.900 meter persegi luasnya kolam retensi dua. Kita sekarang tahun ini Gedebage dahulu, nanti 2021 yang kedua dengan anggaran hampir sama kalaupun ada kenaikan ya sedikit‎," pungkasnya.

Loading...