Sikap Kami: Ngapain Ngurus Rangga Sasana

Sikap Kami: Ngapain Ngurus Rangga Sasana

SIAPAKAH Rangga Sasana? Sebenarnya tidaklah penting. Yang penting itu, apakah perbuatannya menyalahi undang-undang atau tidak. Tapi, kadang-kadang, mulut kita cukup jahil untuk mengurus personalitas orang-perorang itu.

Misalnya begini, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siraj di Temanggung, Selasa (28/1), tegas-tegas menyatakan Sunda Empire, kelompok yang bikin heboh itu adalah HTI. “Yang jelas, kalau itu yang di Jabar, Sunda Empire, itu jelas HTI itu. Kalau yang lain, saya nggak tahu,” katanya seperti dikutip sejumlah media.

Betulkah? Tidak ada bukti yang sahih. Yang ada adalah pernyataan semacam itu dinilai mengada-ada sampai bukti kuatnya ditemukan. Terutama karena selama ini, sejak HTI dinyatakan terlarang oleh pemerintah, dia dijadikan sebagai label bagi sejumlah pihak untuk menandakan sesuatu berlawanan dengan pemerintah.

Patut kita sesalkan pernyataan-pernyataan seperti yang disampaikan Aqil Siradj. Sebab, kita meyakini, jika Sunda Empire itu terafiliasi dengan organisasi terlarang, maka pemerintah sudah pasti memberangusnya sejak awal. Bukan sekarang. Memangnya pemerintah dan aparat tak memiliki intelijen hebat? Atau kita meragukan kemampuan intel-intel kita?

Fakta yang tak terbantahkan justru salah satu petinggi Sunda Empire, dalam hal ini Rangga Sasana atau nama aslinya Edi Raharjo, pernah berkecimpung di DPP Jami’iyah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh Indonesia (JATMI). Jika misalnya ada yang membantah dia menjadi anggota GP Ansor di Bekasi, di JATMI namanya pernah tercatat.

“Sudah kami pecat dari JATMI sejak Juli 2018,” kata Sekjen JATMI, KH Miftakhul Falah. Artinya, sebelum pemecatan itu memang memiliki afiliasi ke JATMI, bahkan jadi pengurus di DPP, bukan?

Tetapi, itu pun buat kita tidak penting. Kita meyakini, apa yang dilakukan Sunda Empire, atau Rangga Sasana, atau Edi Raharjo, atau Kiai Ageng Ranggasasana Ginting, tak ada kaitannya sama sekali dengan agama atau aliran keagamaan. Yang dia lakukan terkait dengan hukum-hukum positif di negeri ini. Sebab, di situlah kita berpijak, bukan pada alirannya.

Maka, sekali lagi hemat kita, tak perlu jahil terhadap Rangga Sasana dan Sunda Empire. Tak perlu mengait-ngaitkannya dengan apapun, kecuali dengan hukum positif di negeri ini. Tak perlu bikin gaduh. Sudahlah cukup kegaduhan yang tercipta dengan keganjilan-keganjilan, keanehan yang mereka tunjukkan.

Selebihnya, serahkan kepada aparat kepolisian. Toh, sejauh ini para petinggi Sunda Empire itu dibidik polisi dengan kabar kebohongan, bukan karena tindakan lain-lain. (*)