Sikap Kami: Ironi Imam Nahrawi

Sikap Kami: Ironi Imam Nahrawi

JIKA saja dakwaan jaksa penuntut umum KPK terhadap Miftahul Ulum terbukti, maka hanya satu saran yang kita sampaikan kepada bosnya, Imam Nahrowi: selepas menyelesaikan persoalan hukumnya, bersembunyi sajalah di dalam rumah. Tak perlu lagi muncul di hadapan publik.

Meski dakwaan untuk Ulum, tapi peran mantan Menpora Imam Nahrawi dalam kasus dugaan suap ini begitu jelasnya. Dan, jika dakwaan itu betul, maka itu merupakan tindakan yang memalukan.

Pertama adalah uang suap itu, salah satunya, bersumber dari hak yang harusnya diterima atlet-atlet nasional. Mereka yang sedang menjalani latihan keras demi Merah Putih di ajang internasional. Mereka yang berjuang dalam gempuran pelatih pada kawah candradimuka bernama Satlak Prima.

Pantas saja, sepanjang Imam menjadi Menpora, prestasi atlet kita tak pernah naik. Jangan bilang Asian Games itu peningkatan prestasi karena medali emas kita sangat dominan di cabang pencak silat yang baru kali ini dilombakan.

Sedikitnya, begitu sebut dakwaan jaksa, ada uang Rp2 miliar yang mengalir dari Satlak Prima untuk membayar tagihan konsultan desain rumah Imam Nahrawi di Cipayung. Dalam konteks itu, istri sang menteri diduga juga ikut cawe-cawe. Uang untuk bayar akomodasi atlet, dipakai untuk keperluan pribadi. Bayangkan.

Banyak lagi kepentingan-kepentingan pribadi Imam yang dibayarkan memanfaatkan anggaran negara itu. Mulai dari buka puasa, beli pakaian, hingga membayar tiket rombongan Kemenpora nonton balapan F1. Rusak sudah, sekali lagi jika dakwaan jaksa terbukti.

Buat kita, ini ironis. Imam itu bukan Menpora yang berhasil. Alih-alih berhasil, dia lebih banyak menghadirkan ribut besar panggung olahraga kita. Ingat, dialah salah satu aktor yang membuat sepak bola kita mendapat skorsing dari FIFA karena secara politik menurunkan La Nyalla Matalitti sebagai Ketua Umum PSSI yang sah.

Menjadi tanda tanya kita, kenapa Presiden Joko Widodo tidak mengetahui pergerakan-pergerakan menyalahi regulasi itu? Artinya, ada pengawasan yang lemah terhadap Kemenpora, baik dalam penggunaan anggaran maupun kebijakan keolahragaan.

Satu lagi yang membuat Imam Nahrowi kita sarankan untuk lebih banyak di rumah selepas perkara ini selesai, adalah karena dia dan anak buahnya pula yang menyoal Roy Suryo, menteri pendahulunya, soal ‘panci Kemenpora’. 

Tapi, tentu saja, saran itu berlaku jika kasus suap ini sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Sebelum itu, sesuai kaidah hukum, kita anggap Imam Nahrawi tidak bersalah sama sekali. (*)