Begini Upaya Ida Fauziyah Tingkatkan Kemampuan Calon Tenaga Kerja

Begini Upaya Ida Fauziyah Tingkatkan Kemampuan Calon Tenaga Kerja
Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah saat berkunjung ke Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. (Reza Zurifwan)

INILAH, Kemang - Dalam kunjungannya ke Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah mengaku akan meningkatkan calon tenaga kerja yang magang di dalam ataupun luar negeri.

"Selain meningkatkan jumlah calon tenaga kerja yang magang baik ke dalam ataupun luar negeri, Kementerian Tenaga Ketja juga telah meningkatkan ketrampilan 256.240 orang, meningktkan produktifitas dan mensertifikasi 911.152 orang calon pekerja," unkap Ida kepada wartawan, Kamis (13/2).

Selain itu, 76.000 orang calon pekerja juga telah diberdayakan melalui program padat karya, 2.500 orang calon pekerja diberdayakan melalui program penerapan teknologi tepat guna.

"Kami juga telah menciptakan  900 calon tenaga kerja sukarela dan 48.000 orang wirausahawan yang dibentuk melalui program Tenaga Kerja Mandiri," sambunh politisi PKB ini.

Wanita yang sebelumnya gagal dalam pencalonan Wakil Gubernur Jawa Tengah ini  mengklaim semakin tahun jumlah orang miskin maupun angka kemiskinan menurun, dari biasanya dua digit ke satu digit, yaitu 9.8%. Ini merupakan angka kemiskinan paling rendah dalam sepanjang sejarah Indonesia.  

"Salah satu penyebab kemiskinan dan ketimpangan pendapatan ekonomi adalah kemiskinan dan ketimpangan kemampuan ketrampilan. Kenapa orang miskin itu karena pendapatannya yang rendah, lalu karena pekerjaannya tidak berkualitas dan juga karena pendidikannya yang rendah. Oleh karena itu pemerintah berupaya keras memperbaiki sistem pendidikan. Tujuan utamanya agar Indonesia punya Sumber Daya Manusia (SDM ) yang terampil dan berkualitas," tutur Ida.

Ia menjelaskan di  era revolusi digital ini, tidak masalah siapa yang lebih pintar, tidak peduli siapa yang lebih kuat karena pendidikan dan keterampilan adalah kunci, tapi yang cepat akan mengalahkan yang lambat. 

"Yang responsif terhadap perubahan akan mengalahkan yang terlena dalam zona nyaman. Yang paling responsive terhadap perubahanlah yang bertahan. Karakter industripun berubah, tidak lagi berbasis modal dan sumber daya alam, melainkan berbasis pengetahuan, inovasi, 

Sekarang pekerjaan boleh jadi tidak jelas, tapi penghasilan harus besar. Dulu orang berlomba untuk mengejar status sebagai pegawai tetap. Sekarang kita tidak perlu status pekerja tetap, yang penting tetap bekerja, tentu dengan penghasilan yang besar. Kementerian ketenagakerjaan sendiri memiliki acuan strategi penciptaan tenaga kerja yang berdaya saing dengan cara menggenjot kualitas, kuantitas dan persebaran. Ada banyak program kerja yang dirancang untuk memperbesar peluang angkatan kerja agar siap memenangi persaingan global," jelasnya.

Alumni IAIN Sunan Ampel Kota Surabaya ini melanjutkan di Tahun 2020 Kementerian Tenaga Kerja telah meluncurkan 2000 paket bantuan Balai Latihan Kerja (BLK) ke  komunitas dengan nilai total anggaran sebesar Rp.2 Trilyun. 

"Tahun ini 1500 Lembaga Pelatihan Kerja  (LPK) akan ditingkatkan kualitas dan mutunya, 417 paket bantuan sarana prasarana  juga akan digelontorkan kepada LPK baik itu melalui program padat karya, program penerapan teknologi tepat guna, program tenaga kerja sukarela dan pembentukan wirausahawan mandiri,"  lanjut Ida. (Reza Zurifwan)