Menjaga Kelembutan dan Kebahagiaan Hati

Menjaga Kelembutan dan Kebahagiaan Hati
ilustrasi

DALAM kesucian, manusia mampu menjaga kelembutan hati. Saat bergelimang dosa, mulailah hati mengeras dan menolak kebenaran bahkan memusuhi kebenaran dan para pembawa kebenaran. Saat hati mengeras, kebahagiaan hakiki tak memiliki tempat yang layak dalam hatinya. Kegelisahan dengan berbagai keluh kesah yang menyertainya menjadi kisah hariannya.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang penyebab dari kerasnya hati. Beliau menjawab: "Memakan makanan haram." Rupanya, apa yang kita makan adalah berpengaruh pada hati kita. Tak salah ungkapan yang biasa kita dengar: "You are what you eat" (Kamu adalah apa yang kamu makan). Jika apa yang kita makan tak sesuai dengan apa yang Allah ridla, maka sulitlah kita hidup menggapai ridlaNya.

Begitu besar pengaruh makanan atas nuansa hati kita, sampai-sampai Syekh Abdullah bin Mubarak berkata: "Menolak satu dirham yang syubhat adalah lebih aku sukai ketimbang menshadaqahkan 100 ribu dirham." Ini bermakna bahwa daya penghancur kebahagiaan1 hal syubhat jauh lebih dahsyat ketimbang daya membahagiakannya sedekah100.000 yang halal. Lalu bagaimana dengan barang yang jelas-jelas haram?

Kalimat dan kisah di atas layak untuk menjadi perenungan bagi semua kita yang sudah dimanja dengan banyak harta dan fasilitas namun tetap saja merasa sedih menderita. Jangan-jangan ada yang syubhat dalam harta kita, atau jangan-jangan ada yang haram di sana. Telitilah dan berhitunglah dengan jujur demi kebahagiaan dan kelembutan hati yang selalu kita cari.

Ke depan, kita perlu lebih berhati-hati, karena semuanya itu dilihat oleh Allah dan dicatat oleh para malaikat Allah. Ini jika kita benar-benar ingin bahagia. Saya kagum sampai geleng kepala membaca kisah bahwa istri-istri orang terdahulu selalu berpesan kepada suaminya saat berangkat kerja: "Bertakwalah kepada Allah dalam mencari nafkah untuk kami. Jangan beri makan kami dengan barang haram." Sebagian istri berkata: "Kami kuat untuk lapar, namun tak kuat masuk api neraka."

Andai suami dan istri sepakat untuk sama-sama menjauh dari harta haram, anak-anak tumbuh berkembang dengan harta yang jelas halal dan baik, maka yakinlah keluarga seperti ini akan mampu menggapai kelembutan hati, kebahagiaan jiwa. Salam, AIM. [KH Ahmad Imam Mawardi]