Kisah Yusuf Azhar, Mahasiswa Kab Bogor yang Sempat Panik Berada di Wuhan

Kisah Yusuf Azhar, Mahasiswa Kab Bogor yang Sempat Panik Berada di Wuhan
Yusuf Azhar (depan) di kediamannya, Perum Griya Cimangir Blok B1 nomor 27-28 RT 001 RW 003 Kecamatan Gunung Sindur. (Reza Zurifwan)

INILAH, Gunung Sindur - Yusuf Azhar, anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan suami istri H Muhammad Cik Nang dan Hj Aprilia bahagia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya di Perum Griya Cimangir Blok B1 nomor 27 - 28 RT 001 RW 003 kecamatan Gunung Sindur.

Pemuda berusia 21 tahun ini tiba di rumahnya pada Sabtu (15/2) malam WIB. Dia lulus pemeriksaan dan observasi coronaovirus disease (virus corona) oleh tim kesehatan TNI Angkatan Udara dan Kementerian Kesehatan RI di Pulau Natuna, Kepulauan Riau.

"Setelah Kota Wuhan, Provinsi Hubei jalur penerbangannya di clock down oleh beberapa kota di Tiongkok maupun negara lain karena mewabahnya virus corona, kami mahasiswa Central China Normal University langsung sangat khawatir dan ingin pulang ke rumah," ucap Yusuf Azhar kepada wartawan, Minggu (16/2).

Ia menerangkan sebelum Kota Wuhan di clock down, pihak universitas  sudah memberikan peringatan berbahaya hingga para mahasiswa dilarang ke luar dari Central China Normal University.

"Sebelum di clock down, sebenarnya kami sudah diberitahu oleh pihak universitas agar tidak keluar asrama atau universitas, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) pun langsung memberikan bantuan bahan pokok  makanan, masker dan uang saku agar kami tetap bisa makan selama di asrama," terangnya.

Walaupun dilanda rasa waswas, Yusuf yang merupakan alumni Universitas Daarul Qolam, Tanggerang ini mengaku tidak pernah melihat langsung orang yang terjangkit virus corona seperti lagi jalan tiba - tiba ambruk.

"Waktu saya di asrama Central China Normal University itu saya belum pernah lihat orang terjangkit virus corona, tetapi saya dengar memang virus ini sangat berbahaya. Setelah China berhasil menanggani virus corona saya tetap ingin melanjutkan study international trading di sana," tutur Yusuf.

Ia menjelaskan sejak menjalani pemeriksaan dan observasi Pulau Natuna, Kepulauan Riau, para mahasiswa pun mulai melanjutkan kuliahnya menggunakan sistem online.

"Sudah tiga hari ini kami mahasiswa Central China Normal University menjalani kuliah secara online dengan para dosen, dengan waktu kuliah mulai pukul 07.00 WIB," jelasnya.

Hj. Aprilia ibunda Yusuf Azhar menjelaskan waktu awal mendengar Kota Wuhan dilanda wabah virus Corona sebagai orang tua tentunya dilanda perasaan khawatir, namun karena dirinya terus berkomunikasi rasa khawatir itu berkurang.

"Rasa khawatir ada, tetapi karena selama berkomunikasi dengan anak dia bilang baik - baik saja maka saya pun tidak terlalu khawatir. Saya pun selalu berpesan agar ia menjaga diri dari bahaya penyebaran virus corona. Kedepan jika Tiongkok pulih dari virus corona kamu tetap mengijinkan apabila ia ingin melanjutkan kuliah," jelas Hj Aprilia.

H. Muhammad Cik Nang mengaku dirinya tetap tenang walaupun di Kota Wuhan tempat anaknya kuliah dilanda virus corona, karena menurut ajaran Agama Islam orang yang meninggal dunia saat menuntut ilmu maka ia dalam keadaan mati sahid.

"Orang meninggal dunia kan bisa dimana saja, misalnya ketika bencana banjir bandang dan longsor kemarin hingga saya pun menguatkan mental dan menenangkan anak saya ketika Kota Wuhan dilanda wabah virus corona," tukas H Muhammad Cik Nang. (Reza Zurifwan)