(Sikap Kami) Kufur Harun

(Sikap Kami) Kufur Harun

APA yang dilakukan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) ini tentu bukan bentuk kufur nikmat. Mereka menyediakan satu unit iPhone 11 untuk siapapun yang membagikan informasi soal keberadaan Harun Masiku.

Tidak melulu kita harus puas dengan apa yang sudah dicapai. Tidak bisa juga disebut kufur nikmat, misalnya, dalam perburuan Harun Masiku, kita menyampaikan bersyukur tiga dari empat tersangka pelaku suap sudah ditahan.

Sebaliknya, kita harus mendorong KPK dan aparat kepolisian untuk segera menangkap calon anggota DPR dari PDI Perjuangan pada Pemilu 2019 lalu itu. Salah satu bentuk dorongan itu adalah dengan terus-menerus mempertanyakan kenapa begitu sulit menangkap Harun Masiku?

Harun Masiku ini bukanlah siapa-siapa. Dia, misalnya, tak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengikuti jejak kaburnya Nazaruddin dulu. Nazaruddin punya sumber daya melimpah hingga secepat kilat pindah dari satu negara ke negara lain. Toh, dengan kekuatan seperti itu saja, dia bisa tertangkap di Kolombia.

Apa yang istimewa dari Harun?  Nyaris tak ada. Patut publik bertanya-tanya, menangkap teroris yang “tersembunyi di lubang semut” pun aparat bisa menemukan, apatah lagi hanya seorang Harun.

Tapi, itulah yang terjadi sampai saat ini. Sudah 39 hari dia ditersangkakan KPK, sudah 28 hari Ketua KPK Firli Bahuri menyatakan terbuka status sebagai DPO, tapi Harun Masiku entah berada di mana.

Melihat perbandingan-perbandingan seperti itu, layak kalau masyarakat bertanya-tanya. Ada apa dengan pencarian Harun Masiku? Apakah Harun Masiku yang terlalu jago? Atau, sebaliknya, aparat tak sungguh-sungguh mencarinya? Atau, apakah Harun Masiku sudah ditelan bumi?

Apapun, buat kita ini merupakan pukulan telak beruntun bagi KPK. Kegagalan menangkap ‘hanya seorang Harun Masiku’ kebetulan terjadi ketika KPK dipimpin orang baru, ketika mereka bekerja berdasarkan undang-undang yang baru.

Pukulan-pukulan seperti ini, sudah pasti, melemahkan posisi KPK dalam pemberantasan korupsi. Setidaknya pelemahan citra mereka. KPK yang selama ini trengginas menangkap tersangka pelaku korupsi, sekarang mendekati seperti ‘ayam sayur’ saja.

Itu sebabnya, kita tidak bisa bersyukur karena KPK baru menangkap tiga dari empat tersangka pelaku suap itu. Tapi, meski kita tak dalam posisi bersyukur, jangan pula kita dianggap kufur nikmat. (*)