Bina UKM Kampung Baragajet, Mahasiswa Sumbang Mesin Pembelah Bambu

Bina UKM Kampung Baragajet, Mahasiswa Sumbang Mesin Pembelah Bambu
Bina UKM Kampung Baragajet, Mahasiswa Sumbang Mesin Pembelah Bambu

INILAH, Leuwisadeng - Melihat potensi alam  berupa pohon bambu yang melimpah untuk dijadikan kerajinan tangan di Kampung Baragajet RT 04 dan 05 RW 06, Desa dan Kecamatan Lewisadeng, Himpunan Mahasiswa Mesin Universitas Pancasila yang sedang melakukan pengabdian masyarakat di lokasi tersebut pun memberikan bantuan mesin pembelah bambu.

"Masyarakat Kampung Baragajet ini selain bertani juga banyak yang melakukan usaha kerajinan tangan dari pohon bambu, untuk itulah kami memberikan bantuan satu mesin  pembelah bambu dengan nilai nominal Rp 11 juta," ucap Ketua HMM Universitas Pancasila Tegar Bima Priambudi kepada wartawan, Senin, (17/2/2020).

Ia menerangkan selain memberikan mesin alat pembelah bambu, dibantu komunitas pengrajin bambu dan Komunitas Ciliwung Kota Depok, para mahasiswa ini pun memberikan pelatihan Usaha Kecil Menengah (UKM).

"Para pengrajin kerajinan tangan ini pun kami latih menciptakan berbagai produk kerajinan yang bahan bakunya dari bambu, kami dibantu komunitas pengrajin bambu dan Komunitas  Ciliwung Kota Depok pun melatih mereka manajemen dan juga pemasaran produk - produknya secara online dengan menggunakan akun sosial media," terangnya.

Ketua panitia pengabdian masyarakat Muhammad Alvin Syahputra menuturkan pohon bambu yang ada di Kampung Baragajet awalnya banyak dimanfaatkan dengan membentuk kursi, meja, kerai atau dinding rumah, dengan adanya mesin pembelah bambu maka limbahnya bisa dimanfaatkan menjadi tempat rokok, tempat korek, gelas, asbak, boks serba guna dan tas.

"Dengan adanya mesin pembelah bambu limbah bambu sisa pembuatan kursi, meja, kerai dan dinding rumah pun bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan seperti tempat rokok, tempat korek, gelas, asbak, boks serba guna dan tas. Adanya mesin ini dipastikan bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Kampung Baragajet," tutur

Ia menambahkan  dalam melakukan pembinaan UKM kepada para pengrajin ini, para mahasiswa HMM Universitas Pancasila tidak melakukan sekali saja bahkan dilakukan hinggga 2 tahun mendatang.

"Pembinaan pelaku pengrajin skala UKM ini kami lakukan secara berkelanjutan yaitu 2 hingga 3 tahun mendatang, pembinaan bosa dilakukan secara online atau mengunjungi langsung ke Kampung Baragajet," tambahnya.

Pria berusia 21 tahun ini berharap Kampung Baragajet yang termasuk kampung terisolir, berkat usaha kerajinan tangannya bisa naik tingkat menjadi kampung maju atau bahkan kampung mandiri secara ekonomi.

"Warga Kampung Baragajet selain bertani umumnya bekerja ke luar kecamatan seperti menjadi pedagang roti, ataupun kerja sebagai buruh kasar, dengan majunya usaha kerajinan tangan ini kami pun berharap kampung terisolir ini meningkat statusnya menjadi kampung maju atau mandiri secara ekonomi," harap Alvin sapaan akrabnya. (Reza  Zurifwan)