"Turut Berdukacita" tanpa Rasa "Turut" di Dalamnya

"Turut Berdukacita" tanpa Rasa "Turut" di Dalamnya
(Antara Foto)

Mungkin satu hari kita mendengar berita kematian. Kita pikir dengan menjadi yang paling pertama mengucapkan "turut berdukacita" diiringi kalimat pelengkap lazim lainnya bahkan menggunakan rangkaian huruf Arab, itu telah menunjukkan rasa empati kita, mewakili kepedulian kita atau jangan-jangan menunjukkan derajat kesolehan kita dalam merespon berita kematian?

Ada pula barisan copy paste, copy saja ucapan belasungkawa sebelumnya, paste di rentetan chat grup, selesai, tugas sebagai sesama anggota grup terwakili sudah, mungkin dibubuhi emote menangis tanpa ekspresi sedih sama sekali di muka apalagi jiwa. Kemudian semua berjalan seperti biasa, tak ada kesedihan, tak ada dukacita, tak ada terselip hikmah kematian bagi diri sendiri apalagi orang lain yang ditinggal pergi, betapa klisenya hidup kita.

Kemarin kita semua tersentak, berita kematian datang dari seorang pesohor akibat serangan jantung dalam usia yang masih terbilang muda, produktivitas sedang tinggi-tingginya, tapi maut tak pandang usia, janin yang baru ditiupkan ruh pun bisa dipanggil dengan segera.

Betapa kematian datang tanpa pemberitahuan, sudahkah kita menuntaskan kewajiban dan melakukan persiapan tuk menyambutnya? Semoga Allah lembutkan hati kita dengan senantiasa tulus dalam mengingat kematian karena bisa jadi sore nanti ialah giliran kita.

Bukankah nama kita telah berada dalam antrian tersebut? Ini bukan tentang siapa yang duluan dan belakangan, ini tentang siapa yang aman dalam penimbangan dan penghakiman. Allah hafidz. [DOS]