Adakah Niat Khusus saat Salat Jenazah?

Adakah Niat Khusus saat Salat Jenazah?

TIDAK disyaratkan dalam shalat jenazah harus mengetahui jenis kelamin mayit yang dishalati. Sebagaimana pula tidak dipersyaratkan harus mengetahui nama mayit. An-Nawawi mengatakan,

"Shalat jenazah tidak harus diniatkan untuk mayit tertentu. Seperti diniatkan untuk mayit bernama Zaid, atau Amr, atau seorang wanita atau seorang lelaki. Namun cukup dengan niat menshalatkan jenazah yang bersangkutan. Dan jika dia sebagai makmum shalat jenazah, lalu dia berniat shalat sebagaimana yang diniatkan imam, itu sah. Demikian yang ditegaskan al-Baghawi dan yang lainnya." (al-Majmu Syarh al-Muhadzab, 5/230).

Keterangan yang lain juga disebutkan dalam kitab Kifayatul Akhyar, "Tidak disyaratkan harus meniatkan shalat jenazah untuk mayit tertentu. Bahwa jika berniat shalat jenazah sebagaimana niatnya imam, itu sudah cukup." (Kifayatul Akhyar, hlm. 162).

Karena inti dari shalat jenazah adalah mendoakan mayit yang bersangkutan. Sekalipun kita tidak tahu jenis kelaminnya, tidak tahu namanya, selama dia muslim, maka doa kita bisa bermanfaat baginya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan" (HR. Bukhari & Muslim)

Bagaimana dengan Kata Ganti dalam Doanya?

Kata ganti orang ketiga dalam bahasa arab dibedakan untuk lelaki (mudzakkar) dan perempuan (muannats). Dalam bahasa arab, kata benda juga terbagi menjadi mudzakar dan muannats. Salah satu diantara cirinya adalah adalah kata muannats bertandakan huruf ta melingkar (marbuthah) sementara kata benda mudzakkar, umumnya tidak menggunakan ta marbuthah. Sebagai contoh:

Kata mayit adalah kata mudzakkar, diantara cirinya tidak ada huruf ta marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf hu. Kata jenazah adalah kata muannats, diantara cirinya ada huruf ta marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf haa.

Sementara dalam shalat jenazah, kita bisa mendoakan dengan redaksi: "Ya Allah, ampunilah mayit ini", atau bisa juga dengan redaksi, "Ya Allah, ampunilah jenazah ini" Oleh karena itu, sekalipun kita tidak tahu jenis kelamin jenazah, menggunakan dhamir (kata) ganti apapun, tetap benar.

Misalnya, anda membaca doa ketika shalat jenazah, /Allahummagh-fir laHU war hamHU wa aafiiHI wafuanHU / ("Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..")

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) hu dengan niat ditujukan kepada mayit. Sehingga kalimat "Ya Allah berilah ampunan kepadanya" maksud kata nya adalah mayit yang merupakan kata mudzakkar. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Atau misalnya, anda membaca doa ketika shalat jenazah, /Allahummagh-fir laHA war hamHA wa aafiiHA wafuanHA / ("Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..")

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ha dengan niat ditujukan kepada jenazah. Sehingga kalimat "Ya Allah berilah ampunan kepadanya" maksud kata nya adalah jenazah yang merupakan kata muannats. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Mohon maaf, jika penjelasannya sulit dipahami bagi mereka yang belum kenal bahasa arab. Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum mengumumkan jenis kelamin jenazah sebelum dishalati. Jawab beliau,

"Tidak masalah mengumumkan jenis kelamin mayit; apakah mayitnya lelaki ataukah perempuan sebelum pelaksanakan shalat jenazah, tertutama jika jamaah yang hendak menyolatkan tidak mengetahui jenis kelamin mayit. Agar mereka berdoa dengan kata ganti mudzakkar jika mayitnya laki-laki, atau mendoakan dengan kata ganti muannats jika mayitnya perempuan."

Kemudian beliau melanjutkan,

Dan jika tidak diumumkan, juga tidak masalah. Para jamaah yang tidak mengetahui jenis kelamin mayit, bisa berniat shalat jenazah untuk mayit yang ada di depan. Dan shalatnya sah, baik membaca doa dengan lafal mudzakkar dengan maksud untuk mayit yang ada di depan atau dengan lafal muannats dengan maksud untuk jenazah yang ada di depan. (Majmu fatawa war rasaail Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, 17/103).

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]