Satu Desa dalam Satu Kecamatan di Jabar Akan Miliki Lapangan Sepak Bola

Satu Desa dalam Satu Kecamatan di Jabar Akan Miliki Lapangan Sepak Bola
Ilustrasi (net)

INILAH, Bandung - Setiap satu desa dalam satu kecamatan di Jawa Barat akan memiliki lapangan sepak bola. Hal tersebut sebagai salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar untuk mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) yang saat ini berada di urutan paling bontot disandingkan provinsi lainnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Jabar Dedi Sopandi mengatakan, lapangan bola desa ini merupakan salah satu dari sembilan poin yang diamanatkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk meningkatkan potensi desa. Pembangunan akan masif dilakukan pada 2021 nanti.

"Kita berharap ada satu desa dalam satu kecamatan. Di Jabar berarti ada 626 kecamatan berarti di akhir tahun itu, jadi kita berharap ada 626 lapangan sepak bola yang hadir," ujar Dedi Sopandi, Rabu (19/2/2020).

Saat ini, IPP Jabar ada urutan ke-34. Karena itu, pihaknya merasa perlu turut serta mendongkrak IPP dari tingkat desa, dengan memberikan wadah melalui sarana dan prasarana yang menunjang potensi pemuda di desa.

"Karena penyampaian dari Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga) ke kami bahwa salah satu IPP di Jabar rendah itu dikarenakan tidak ada aktivitas pemuda terutama yang ada di desa," katanya.

Dedi mengatakan, lapangan bola di desa ini sifatnya adalah revitalisasi. Di mana tidak membuat baru, namun memperbarui lapangan yang sudah ada sehingga kian layak untuk diakses masyarakat. "Jadi sekarang ini di setiap desa sebetulnya sudah ada lapangan sepak bola," ucapnya.

Meskipun beberapa desa saat ini sudah memiliki lapangan, namun tidak sedikit yang kondisinya kurang baik. Misalnya, Dedi menilai, kontur tanah yang tidak rata termasuk rumput yang tidak memadai masih kerap dijumpai.

Pihaknya akan memperbaiki sejumlah lapangan sepak bola dengan kondisi yang kurang memadai tersebut, termasuk dalam penyediaan jogging track. "Nanti di akhirnya akan dikelola oleh Dispora (Jabar), mudah-mudahan akhir 2023 kita gelar liga desa di Jabar," katanya.

Selain lapangan desa, Dedi mengatakan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun mengamanatkan anggaran desa lebih dititikberatkan kepada delapan program lainnya. Delapan program lainnya itu, di antaranya jalan mulus desa, akses untuk lokasi wisata, home stay, sanitasi, saluran pengelolaan air limbah, dan posyandu.

"Mudah-udahan di 2021 bisa kita lakukan secara masif sehingga bisa menjadi daya dorong naiknya IPP," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jabar Engkus Sutisna mengatakan pihaknya sedang memproses dua Rapergub guna mendorong peningkatan IPP di Jabar.  Dengan adanya Pergub Koordinasi Strategis Lintas Sektor Pelayanan Kepemudaan, maka setiap stakeholder akan gotong royong menggenjot IPP di Jabar.

Terlebih dia sampaikan, urusan IPP ini tidak melulu tanggung jawab dari Dispora Jabar. "Rapergub pertama yaitu tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Pelayanan Kepemudaan. Kedua, Rapergub tentang Lembaga Permodalan Kewirausahaan Pemuda. Itu sudah sampai pada draf," ujar Engkus Sutisna.

Di sisi lain, Engkus menambahkan, sejumlah program dari Dispora Jabar pun diarahkan guna mendukung peningkatan IPP. Di antaranya, Latihan Pengembangan Kewirausahaan yang kini telah 7 angkatan.

Selain itu, ada pula Program Latihan Kepemimpinan Pemuda, Jabar Future Leader (Ajudan Magang), Jabar Innovation Fellowship (Pemuda Magang), Jabar Innovation Summit, program kemitraan dengan KNPI/OKP, komunitas, mahasiswa dan Pramuka, serta program-program strategis lainnya.

Khusus Jabar Innovation Fellowship atau Pemuda Magang, dia mengatakan, merupakan salah satu inisiasi dari Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Program ini memberikan kesempatan kepada milenial untuk lebih jauh belajar tentang pemerintahan dengan keikutsertaan magang di sejumlah dinas atau perangkat daerah.

"Tahun kemari, pendaftar lebih dari 700 orang dan kita saring menjadi 30 orang. Untuk tahun 2020 ini kita tingkatkan menjadi 80 orang," jelasnya.

Menurut Engkus, peran para milenial yang sangat menonjol pada program tersebut erat kaitannya dengan penerapan teknologi informasi. Mereka diberikan kesempatan magang selama empat bulan. "Setelah empat bulan itu, ada yang di antara mereka yang diterima sebagai tenaga non-PNS. Tapi di antara mereka juga ada yang sudah bekerja, jadi bukan seolah-olah mencari pekerjaan mendaftar Pemuda Magang ini," pungkasnya. (rianto nurdiansyah)