Apple Akui Tak Dapat Penuhi Target Pendapatan

Apple Akui Tak Dapat Penuhi Target Pendapatan
istimewa

INILAH, Cupertino - Apple mengaku tidak dapat memenuhi target pendapatan untuk kuartal Maret karena wabah virus corona yang memperlambat produksi iPhone dan melemahnya permintaan di China.

Fasilitas manufaktur Apple di China telah mulai dibuka kembali, namun produksi meningkat lebih lambat dari yang diharapkan, demikian menurut Apple dalam pernyataan kepada para investornya, seperti dilansir Reuters.

"Pasokan global iPhone akan terbatas. Kekurangan pasokan iPhone ini untuk sementara waktu akan memengaruhi pendapatan di seluruh dunia," kata Apple.

Pada Januari lalu, Apple memperkirakan pendapatan US$63 miliar hingga US$67 miliar untuk kuartal kedua yang berakhir pada bulan Maret, lebih tinggi dari perkiraan US$62,4 miliar.

Apple mengatakan bahwa penutupan toko karena pencegahan virus corona telah memengaruhi penjualannya di China, dengan sebagian besar toko ritel ditutup atau pengurangan jam-jam operasi.

"Kami secara bertahap membuka kembali toko-toko ritel kami dan akan terus melakukannya dengan baik dan seaman mungkin," kata raksasa teknologi AS yang bermarkas di Cupertino, California itu.

Gangguan pendapatan itu terjadi setelah penjualan iPhone menguat pada bulan Desember, pertama kalinya dalam setahun.

Analis memperkirakan bahwa wabah virus corona dapat memangkas setengah dari permintaan smartphone pada kuartal pertama di China, pasar terbesar di dunia.

"Sementara kami telah membahas dampak negatif virus corona terhadap iPhone selama beberapa minggu terakhir, besarnya dampak ini sampai membuat Apple mengakui tidak dapat memenuhi target di pertengahan Februari jelas lebih buruk daripada apa yang ditakutkan," kata Daniel Ives, analis Wedbush.

Meski demikian, ia tetap optimistis bahwa Apple akan dapat pulih dari dampak virus corona.

"Ketika mencoba untuk mengukur dampak menurunnya iPhone dan potensi bangkit kembali pada kuartal Juni, kami tetap yakin pada Apple untuk jangka panjang," kata Ives.

Wabah virus corona diperkirakan akan meningkatkan tekanan pada ekonomi China, dengan banyak perusahaan berjuang untuk memulai kembali produksi setelah liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang. (inilah.com)