Sikap Kami: Mencintai Citarum

Sikap Kami: Mencintai Citarum

MEMULIHKAN Citarum itu satu hal. Berat? Tentu. Tapi, ada yang lebih berat: memedulikan Citarum. Yang terakhir ini bukan hanya soal anggaran dan kerja keras, tapi bagaimana mencintainya dengan hati.

Kenapa Citarum ternoda dan pernah disebut sebagai sungai terkotor di dunia? Karena kita tidak memiliki hati untuk itu. Kita tidak peduli terhadap nasib Citarum. Segala penyebab kerusakannya dilakukan. Membuang sampah sembarangan, membangun gila-gilaan di daerah aliran sungai, menceburinya dengan limbah buruk dan busuk, menggasak bebatangan pohon di sekitar –terutama di hulu.

Ulah-ulah semacam itu memunculkan kerugian yang luar biasa. Sulit mengkalkulasinya dengan rupiah. Berapa nilai total kerugian akibat banjir luapan Citarum? Triliunan pasti. Berapa duit dihabiskan untuk pemulihan Citarum? Bisa-bisa tiliunan juga.

Kita tentu mengapresiasi semua pihak yang berupaya memperbaiki Citarum. Menjadikannya harum kembali, tidak busuk, bau, dan bahkan tercampur racun. Dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, TNI, Polri, bahkan juga bantuan-bantuan dari luar negeri.

Kita juga mengangkat topi kepada masyarakat, kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, yang selama ini peduli dan ikut memulihkan Citarum. Berkat kerja keras semua pihak, tentu berkat anggaran besar yang digelontorkan, kondisi Citarum kini jadi lebih baik.

Kita menjadi saksi, sejak gerakan pemulihan Citarum digelorakan, semangat untuk memulihkan sungai muncul di mana-mana. Kita apresiasi warga-warga sekitar sungai yang mau menanam kembali lahan menuju tandus, terutama di hulu.

Tetapi, itu saja tidak cukup. Yang tak kalah penting dipulihkan kembali adalah bagaimana menguatkan rasa cinta masyarakat, semuanya, terhadap Citarum. Bagaimana mengubah mentalitas dari pengabai menjadi pecinta Citarum.

Sebab, betapapun kondisi Citarum sudah mulai pulih, itu takkan bertahan lama jika masyarakat berpuas diri dan abai terhadap kerusakan lingkungan. Ini menurut kita hal yang paling vital dalam penyelamatan sungai ini.

Tidak hanya masyarakat, kecintaan pemerintah juga dituntut. Kita bayangkan, jika saja Omnibus Law yang sedang ada di DPR saat ini diloloskan, termasuk dengan mempermudah izin tanpa harus memiliki IMB dan Amdal, kita khawatir tak lama Citarum akan kembali ke posisi yang menyedihkan. (*)