Pertek Tetap Berjalan, Pemkab Cirebon Harus Kunci Lahan Abadi

Pertek Tetap Berjalan, Pemkab Cirebon Harus Kunci Lahan Abadi

 

INILAH, Cirebon - Pemkab Cirebon diminta mengunci lahan abadi untuk pertanian, seluas 40 ribu hektare. Hal itu untuk mengamankan lahan pertanian yang saat ini mulai habis tergerus lahan industi dan perumahan.

Demikian dikatakan anggota komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon, Yoga Setiawan, Kamis (20/2/2020) lewat sambungan telepon selulernya.

Yoga menjelaskan, perlunya mengunci lahan abadi karena untuk memperjelas dimana posisi sentra pertanian, dimana sentra industri. Masalahnya, ketika terbit Pertimbangan Tekhnis (PERTEK) dari BPN, saat ini ada kegaduhan dikalangan pelaku industri terlebih kalangan pengembang perumahan.

"Saya beberapa kali menanyakan ke dinas pertanian, dimana lokasi lahan abadi. Tapi jawabannya selalu ada tanpa mau memberikan data akurat," ungkap Yoga.

Yoga juga menyikapi bahwa penguncian lahan abadi berhubungan dengan persoalan Pertek BPN. Saat ini pihak BPN dan Pemkab Cirebon kembali akan mengadakan pertemuan, untuk menyelaraskan pembacaan peta. Selama ini, ada multi tafsir pembacaan peta, antara BPN dan Pemkab Cirebon.

"Peta BPN dan peta Pemkab nanti disingkronkan. Ini menghindari multitafsir. Setelah semua singkron, kami akan menentukan posisi lahan abadi. Kalau sudah dikunci, tidak ada lahan sawah yang masuk lahan abadi bisa dijadikan industri," ungkapnya.

Yoga menambahkan, saat ini Pemkab sedang menunggu keputusan gubernur terkait Pertek BPN. Namun menurutnya, kalau saja persoalan singkronisasi pembacaan peta sudah final, persoalan Pertek tidak ada masalah. Justru akan memangkas birokrasi perizinan yang selama ini terkesan ribet. Pengusaha, akan semakin mudah mengurus izin karena hanya melewati beberapa tahapan saja.

"Maka dari itu, kami tidak mau kecolongan dan akan mengamankan lahan abadi. Jangan sampai lahan sawah malah berubah jadi lahan industri. Mudah mudahan masalah perizinan, kedepannya sejalan dengan BPN," tukasnya.

Namun sayang, Ketua BPN Kabupaten Cirebon, Luthfi sulit ditemui. Beberapa kali dihubungi lewat sambungan telepon selulernya, tidak direspon. (maman suharman)