Pemkot Bogor dan PT INKA Jajaki Peluang Kerjasama Transportasi

Pemkot Bogor dan PT INKA Jajaki Peluang Kerjasama Transportasi
Pemkot Bogor dan PT INKA Jajaki Peluang Kerjasama Transportasi

INILAH, Bogor,- Wacana kerjasama antara Pemkot Bogor dan PT. INKA kian menguat. Saat ini, Pemkot Bogor mengaku masih tahap mengkaji BUMD mana yang dapat dikolaborasikan dengan PT. INKA.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, hasil pertemuan dengan Direksi INKA beberapa waktu yang lalu di Madiun, mereka berkeinginan untuk melakukan investasi. Kerjasama investasi tersebut lanjutnya dibiayai PT INKA, sehingga tidak ada pembebanan ke APBD Kota Bogor, tetapi harus dipikirkan apa namanya teknis bagaimana skema bisnisnya.

"Nah, salah satu alternatifnya adalah kami akan melakukan joint venture kalau memang apa namanya skema bisnisnya disetujui oleh kedua belah pihak maka tinggal dengan anak perusahaan dari BUMN di Kota Bogor yang mana. Yang mana akan bekerjasama dengan PT INKA, lagi dikaji, artinya bisa perumda Tirta Pakuan atau yang lainnya. Misalnya kan karena semua sudah jadi perumda, bisa punya anak perusahaan jadi yang kerjasama itu anak perusahaannya," ungkap Dedie, Jumat (21/2/2020)

Dedie menuturkan, pada dasarnya untuk PDJT terbilang memungkinkan, namun juga induk perusahaan PDJT itu harus diseimbangkan dahulu. Karena itu akan segera dibantu Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) untuk bentuk joint venture.

"Jadi tidak ada namanya perusahaan kereta bahkan yang sudah diminati oleh masyarakat pasti subsidi. Ada skema PSO atau namanya public service obligation jadi ada peran pemerintah nanti kedepannya akan kami pikirkan. Tetapi tentu untuk bagaimana caranya ini bisa hidup tapi kita harus pikirkan apakah nanti akan manfaatnya. Nanti ada stasiun lokalnya seperti di Pasar Bogor, Alun-alun Bogor, Pasar Kebon Kembang dan Botani," tambahnya.

Dedie menegaskan, hal ini masih panjang,  tapi harus intens juga agar transportasi secara menyeluruh bisa ditata. Dirinya juga belum menyampaikan teknis trem ke DPRD Kota Bogor, karena skemanya belum clear. Secara umum DPRD sudah paham, tapi teknisnya masih dirancang agar bisa mengakomodir semua keinginan bersama.

"Target secara teknis sudah clear regulasinya apa, skema bisnis terealisasi, kaitan dengan rerouting dan reduksi angkot masih dipikirkan. Trem ini dari hibah Belanda mau kami terima, tapi kalau memang berat harus biaya transportasi dan asuransinya ya tidak diambil. Nah untuk PT. INKA produksi dalam negeri sudah handal, secara teknologi lebih simpel dari LRT dan Kreta. Karena ini bus yang diberi rel, PT INKA kelebihannya dengan baterai tidak ada kabel atau ramah lingkungan," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dishub Kota Bogor, Eko Prabowo menambahkan, pertemuan jajaranya dengan PT INKA ini merupakan tindak lanjut atas kunjungan pihaknya ke Madiun beberapa waktu lalu. PT INKA akan berinvestasi ke Kota Bogor, oleh karenanya diperlukan pembahasan teknis. PT INKA ingin menindaklanjuti pertemuan di Madiun, karena PT INKA akan berinvestasi di Kota Bogor.

"Untuk itu, kami perlu mematangkan bentuk kerjasamanya seperti apa. Dinas PUPR saat ini kan sedang membangun perencanaan terkait pelebaran jembatan Otista. Kami sampaikan juga hal itu kepada PT INKA agar perencanaannya bisa selaras. Detail investasi dari PT INKA sendiri, akan dibahas lebih lanjut setelah penandatangan MoU dilakukan bersama Pemkot Bogor dalam waktu dekat ini," tuturnya.

Eko membeberkan, ini masih tahap awal, nantikan investasinya akan dihitung setelah MoU ditandatangani. Investasi PT INKA berbentuk unit trem, relnya, dan pemantapan untuk jalurnya. Untuk operatornya masih dibahas, sejauh ini PT KAI juga mau jadi operator.

"Setelah MoU dilakukan, masih kata Eko, proses pengkajian akan dilakukan bersama PUPR ke tahap teknis. PT INKA akan menurunkan beberapa tenaga ahli guna melakukan kajian jalur dan pembangunan jembatan untuk jalur trem," pungkasnya. (rizki mauludi)