Garut Oh Garut, Daerah Kaya tapi Banyak Penduduknya Miskin

Garut Oh Garut, Daerah Kaya tapi Banyak Penduduknya Miskin
Ilustrasi/Zainulmukhtar

INILAH, Garut- Kabupaten Garut dikenal dengan berbagai keunggulan sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Tapi kok.....

Berbagai potensi bahan tambang mulai panas bumi, emas, bijih besi hingga galian C. Hasil kekayaan laut dengan bentangan pantai sepanjang 83 kilometer, bertebarannya titik potensi daerah tujuan wisata alam, hasil pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kuliner, dan berbagai jenis komoditas perdagangan.

Tak heran bila sejumlah sejarawan menyebutkan, pada abad ke-19, Garut merupakan salah satu daerah penting bagi penelitian pengetahuan alam, dan menjadi sumber insparasi bangsa Eropa, khususnya kolonial Belanda, membangun kebudayaan baru, berkaitan pengolahan SDA berkearifan lokal.

Akan tetapi dengan bekal berbagai keunggulan SDA, dan SDM-nya itu, alih-alih menjadi motor penggerak kemajuan daerah di Jawa Barat bahkan nasional, hingga kini, Kabupaten Garut malah masih terus berkutat pada persoalan rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) dengan angka kemiskinan tinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di Jawa Barat.

IPM Garut pada 2019, hanya mencapai 66,22 poin dengan menempati peringkat ke-25 dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Capaian cukup jauh dibandingkan IPM Jawa Barat yang mencapai 72,30.

Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut pun nyaris tak banyak perubahan dari tahun ke tahun. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut terus bertengger di peringkat dua sebagai daerah terbanyak jumlah penduduk miskinnya di antara 27 kabupaten/kota di Jawa Barat pada 2019 ini.  

Pada 2019, jumlah penduduk miskin di Garut mencapai sebanyak 235.190 jiwa, atau sekitar 8,98% dari total penduduk Garut sebanyak 2.622 425 jiwa.

Kendati angka tersebut berkurang dibandingkan pada 2014 yang mencapai sebanyak 315.580 jiwa, peringkat Garut berkaitan jumlah penduduk miskinnya masih berada di peringkat dua terbanyak, seperti halnya peringkat sama ditempati Garut pada 2014. Padahal ketika itu Kabupaten Pangandaran belum terbentuk, dan masih masuk wilayah Kabupaten Ciamis.

Garis kemiskinan penduduk Garut sendiri pada 2019 mencapai Rp301.202/kapita/bulan. Dengan begitu, saat ini, terdapat sebanyak 235.190 jiwa penduduk Garut memiliki pengeluaran untuk kebutuhan makanan maupun nonmakanan di bawah Rp301.202/kapita/bulan. Sebanyak 235.190 jiwa itulah penduduk Garut yang masih tidak memiliki kemampuan secara ekonomi memenuhi kebutuhan dasar makanan, dan bukan makanan.

"Kondisi ini sangat memprihatinkan. Padahal anggaran untuk pembangunan setiap tahunnya semakin besar, tapi kehidupan masyarakatnya tak banyak berubah. Banyak proyek kualitasnya buruk, mangkrak, bahkan mubazir. Arah pembangunan selama ini terkesan tidak fokus, dan serius," sesal pemerhati kebijakan publik Suryaman, Jum'at (21/2/2020).(zainulmukhtar)