Rizal Ramli: Tim Ekonomi Jokowi Amatiran

Rizal Ramli: Tim Ekonomi Jokowi Amatiran
Ekonom Senior, Rizal Ramli. (Net)

INILAH, Jakarta - Periode kedua Presiden Joko Widodo, terjadinya pelemahan daya beli sulit dibantah. Kalangan wong cilik sangat merasakan bagaimana seretnya perekonomian. Jadi, jangan berharap pertumbuhan ekonomi bakal moncer di tahun ini.

Ekonom senior DR Rizal Ramli mengkritik kinerja tim ekonomi Presiden Jokowi yang amatiran. Meski utang Januari 2020, Kementerian keuangan mencatat adanya kenaikan atas utang pemerintah sebesar Rp39 triliun (0,81%) menjadi Rp4.817 triliun, tak mampu mendongkrak daya beli.

"Baru mulai sadar deh, ternyata utang jor2an pemerintah, tidak ada pengaruhnya terhadap daya beli dan bisnis. Gara2 kelola ekonomi makro amatiran," tegas Rizal.

Dirinya kembali mengritik penerbitan Surat Utang Negara (SUN) yang bunganya 2% lebih mahal ketimbang deposito. Akibatnya, pemilik dana besar lebih memilih memborong SUN yang bunganya lebih tinggi dan dijamin 100% negara, ketimbang deposito bank.

Saat ini, lanjut Bang RR, sapaan akrab Eizal Ramli, sebanyak 30% dana pihak ketiga (DPK) di lembaga keuangan tersedot ke SUN. Akibatnya, likuiditas perbankan menjadi seret, termasuk pertumbuhan kredit kontet di level 6,02% pada 2019. "Kalau ekonomi normal, kredit tumbuh 15% sampai 18% per tahun. Itulah mengapa uang susah, daya beli anjok, bisnis susah," ungkapnya.

Kata mantan Menko Kemaritiman di Kabinet Indonesia Kerja Presiden Jokowi ini, memberikan sindirian terkait terus membengkaknya utang negara. "Banyak yang berkata, "Terserah deh pemerintah dan BUMN, mau ngutang jor-joran. Toh, ndak ada hubungan dengan saya. Pernyataan itu benar selama utangnya dalam batas wajar. Tetapi, kalau berlebihan seperti saat ini, ada crowding-out effect," kata Rizal serius. [ipe]