Bagaimana Agar Cinta Allah?

Bagaimana Agar Cinta Allah?
Ilustrasi/Net

1.  Evaluasi diri.
Sering-seringlah melihat ke dalam diri dan bertanya kepada diri sendiri, siapakah yang lebih banyak diingat dan dipikirkan oleh kita. Belajarlah mengamalkan “ilmu bungkus”. Setiap ingat sesuatu yang bersifat duniawi, segera bungkus ingatan atau pikiran tentangnya dan serahkan kepada Allah Swt. Serahkan dan sandarkan apa yang kita miliki atau apa yang kita ingat-ingat dari urusan duniawi itu kepada Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Memiliki segalanya. Yakinilah bahwa apapun yang kita miliki, apapun hasil kerja keras kita, itu semua adalah pemberian dari-Nya. Itu semua hanyalah titipan-Nya kepada kita.

Aktifitas mengevaluasi diri adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Allah Swt berfirman di dalam Al Quran, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr [59]: 18).

2.  Latih diri untuk ber-tahanuts.
Tahannuts adalah berdiam diri di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian manusia. Rasulullah Saw pernah melakukannya di gua Hira, sebuah gua kecil di atas Jabal Nur, sekitar 5 km arah utara kota Makkah.  Tahannuts telah menjadi tradisi para nabi atau pencari kebenaran, ketika mereka menghadapi masalah-masalah penting. Tahannuts ini dilakukan untuk lebih mendekat kepada Allah Swt, merasakan kehadiran-Nya dan menyampaikan segala kegelisahan diri kepada-Nya.

Aturlah waktu kita untuk memiliki kesempatan dalam kesendirian dan hanya berdoa kapada Allah Swt. Manfaatkanlah kesunyian malam hari untuk bercerita kepada-Nya tentang apa saja, bisa keluh kesah, bisa juga kegembiraan kita. Karena sesungguhnya hanya Allah tempat kita mengadu dan memohon.

Perbanyak menunaikan shalat malam. Di dalam shalat, panjangkanlah sujud dan berdoalah dengan sungguh-sungguh. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah Saw bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tiada naungan kecuali naungan-Nya…” Di antaranya adalah, “Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lantas berlinanglah kedua matanya.” (HR. Bukhari Muslim)

3.  Rutinkan membaca Al Quran.
Al Quran berisi petunjuk-petunjuk dari Allah Swt. Sering-seringlah membacanya dan akan lebih baik lagi jika membacanya sembari membaca artinya atau memahami maknanya, karena itu akan jauh lebih berkesan di dalam diri kita. Jika membaca sms dari seseorang yang kita sayangi saja kita merasa senang, semestinya kita jauh lebih senang lagi membaca surat dari Allah Swt.

Coba ukur diri kita sendiri, dalam satu hari bagaimanakah perbandingan antara membaca Al Quran dengan membaca koran, sms, atau berita di internet, manakah yang lebih banyak? Padahal membaca Al Quran itu memiliki keutamaan yang sangat banyak. Diantaranya adalah sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Bacalah Al Quran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim). 

4.  Perbanyak dzikir
Allah Swt berfirman, Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [13]: 28).

Basahkanlah lisan kita dengan dzikir, dzikir dan dzikir. Apapun aktifitas kita, ketimbang menggunakan lisan untuk membicarakan hal yang sia-sia, akan jauh lebih baik digunakan untuk berdzikir. Pembicaraan sia-sia hanya akan menimbulkan dosa karena bisa terjebak kepada berbicara dusta, sombong atau malah membicarakan keburukan orang lain. Sedangkan berdzikir kepada Allah Swt justru akan menenangkan hati dan mendekatkan diri kita kepada-Nya. Berdzikir akan semakin menyemaikan rasa cinta kita kepada-Nya.

Dzikir dengan lisan adalah hal yang ringan untuk dilakukan. Akan tetapi hal itu menimbulkan efek yang luar biasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Dua kalimat ringan diucapkan lidah, tapi berat dalam timbangan (akhhirat) dan disukai oleh Allah yaitu kalimat, “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari).

Oleh karenanya, latih dan biasakanlah lisan kita menyebut nama Allah Swt. Jika itu sudah terbiasa, maka latihlah untuk selalu mengucapkannya diiringi dengan pengucapan juga di dalam hati. Hingga akhirnya dzikrullah itu benar-benar menyatu dengan pribadi kita dan mewarnai setiap perilaku kita. Dengan demikian, rasa cinta kita kepada Allah Swt akan tertanam dalam-dalam di dalam hati dan perbuatan. Ketika kita mencintai-Nya meski baru sedikit saja, sungguh Allah akan mencintai kita dengan kadar yang jauh lebih besar.

Di dalam Al Quran Alah Swt berfirman, Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah [2]: 152).

Saudaraku, sesungguhnya Allah Maha Pencemburu. Allah yang telah menciptakan kita, menciptakan alam dengan seisinya, dan melimpahkan rezeki kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali. Maka, mengapa yang ada di dalam hati dan pikiran kita adalah sesuatu selain-Nya?! Allah yang memberikan sehat, Allah yang menyembuhkan, Allah yang menutupi kekurangan kita, lantas mengapa kita hanya memberikan waktu, ingatan dan pikiran sisa bagi-Nya?!