Nelangsa Buruh Indonesia di Pusat Virus Corona Korsel

Nelangsa Buruh Indonesia di Pusat Virus Corona Korsel
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Gwangju- Sejumlah buruh asal Indonesia di Daegu, kawasan selatan Korea Selatan, mengaku masih harus bekerja meski kota tersebut sudah menjadi pusat penyebaran utama virus corona, demikian cerita dua buruh pada Minggu (23/2) malam.

"Pada umumnya, para buruh di Daegu tinggal di asrama dekat pabrik yang disediakan oleh perusahaan sehingga kontak dengan penduduk kota yang meningkatkan risiko corona bisa diminimalkan," kata seorang buruh produsen plastik di Daegu, Erik Priana, melalui telepon. 

Erik menceritakan bahwa banyak pemimpin pabrik di Daegu yang meminta para buruh untuk tidak keluar dari asrama dan mengunjungi pusat kota selama satu bulan terakhir. Perusahaan tempat Erik bekerja bahkan menyediakan layanan titip belanja kepada para buruh yang membutuhkan bahan makanan.

Namun, Erik sempat "mencuri waktu" untuk mengunjungi pusat kota pada akhir pekan itu. Dalam pantauannya, sudut-sudut yang biasa ramai kini sepi, toko-toko tutup sementara apotek tidak beroperasi.

"Restoran-restoran Indonesia di sini sangat berkurang pengunjungnya," kata dia.

Selain masih harus bekerja, buruh migran Indonesia di Daegu harus kehilangan sebagian penghasilan karena banyak produk pabrik di kota tersebut yang tidak bisa diekspor karena kekhawatiran dunia internasional terhadap wabah corona.

"Karena pesanan berkurang, maka jam kerja juga berkurang. Upah pun turun tajam," kata dia.



Keadaan serupa diungkapkan oleh Daffi Syahputra, yang sudah bekerja selama hampir tiga tahun untuk produsen knalpot pemasok Hyundai di Daegu. Daffi juga harus berangkat bekerja pada Senin.

"Selama ini saya hanya keluar kos untuk berangkat kerja dan keperluan mendesak," kata dia.

"Pabrik-pabrik di Daegu memang sangat perhatian mengenai corona karena ini menyangkut keselamatan bisnis mereka," kata pria berusia 23 tahun asal Jakarta itu.

Jika ada satu saja buruh yang terindikasi terjangkit Covid-19,  pabrik tempat dia bekerja harus berhenti beroperasi selama satu pekan untuk disterilkan. Tentu saja pabrik akan rugi,  ujar Daffi.

Daegu dalam tiga hari terakhir mengalami lonjakan pasien wabah corona. Dalam hitungan hari, ratusan pasien baru yang positif terjangkit COVID-19 bermunculan.

Hingga Senin pagi waktu setempat, pasien wabah corona di seluruh Korea Selatan bertambah 161 orang dari hari sebelumnya menjadi 763. Semua tambahan kasus itu berasal dari Daegu.