Kebanjiran, Derita Warga Karawang di Musim Hujan

Kebanjiran, Derita Warga Karawang di Musim Hujan
Ilustrasi (net)

INILAH, Karawang – Banjir, mungkin bukan bencana aneh bagi warga yang bermukim di Kabupaten Karawang di kala musim hujan tiba. Apalagi, daerah lumbung padi nasional itu dilintasi beberapa sungai besar, di antaranya Citarum dan Cibeet.

Tak heran, saat intensitas hujan menunjukkan peningkatan seperti sekarang ini, di kabupaten tersebut, khususnya di wilayah yang paling dekat dengan bantaran sungai dipastikan akan kebanjiran.

Kondisi itu, terjadi akibat tingginya debit air di dua sungai dampak dari curah hujan yang tinggi. Karena, ketika air sungai itu luber otomatis akan meluap ke dataran dan pemukiman warga.

Seperti saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang melansir, telah menerjang beberapa desa di 9 kecamatan yang ada. Di antaranya, Kecamatan Cilebar, Batujaya, Tempuran, Rengasdengklok, Kutawaluya, Pangkalan, Telukjambe Barat, dan sebagian wilayah Cikampek.

“Dua hari terakhir, curah hujan cukup tinggi. Dari data kami, sudah ada sedikitnya 18.398 jiwa di 9 kecamatan yang terdampak,” ujar Kepala BPBD Karawang, Yasin Nasrudin kepada wartawan, Rabu (25/2/2020).

Yasin menjelaskan, wilayah-wilayah tersebut selama ini memang menjadi daerah langganan banjir. Saat ini, pihaknya masih fokus untuk melakukan pendataan warga yang terdampak. Adapun ketinggian genangan air yang menerjang pemukiman warga, bervariasi antara 20 sentimeter hingga 1 meter.

“Kita sudah menyebar petugas untuk membantu mengevakuasi warga, termasuk mendistribusikan bantuan logistik untuk korban banjir. Untuk saat ini, status Karawang sedang siaga banjir,” jelas dia.

Sementara itu, Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur menepis tudingan, jika banjir yang terjadi di wilayah Karawang merupakan dampak dari kiriman air dari Waduk Jatiluhur melalui aliran Citarum. Perusahaan BUMN ini menegaskan, jika banjir yang menggenangi sebagian wilayah tersebut lebih disebabkan meluapkan sungai-sungai akibat curah hujan yang tinggi.

“Jadi, kalau ada yang bilang jika banjir Karawang berasal dari Jatiluhur, itu tidak benar,” Staf Humas PJT II Jatiluhur, Susilo Atmojo.

Menurut dia, sejauh ini perusahaannya terus membangun koordinasi dengan sejumlah kabupaten yang wilayahnya teraliri air dari Waduk Jatiluhur. Semisal, Kabupaten Karawang dan Bekasi. Adapun komunikasi searah dengan lintas instansi dan lembaga terkait itu, untuk menginformasikan kondisi air di Jatiluhur ini kepada masyarakat secara benar.

“Biasanya, yang membuat cemas di masyarakat itu lantaran adanya kesimpang-siuran informasi tentang kondisi Jatiluhur,” jelas dia.

Susilo menegaskan, saat ini kondisi Waduk Jatiluhur masih di bawah normal. Saat ini, tinggi muka air (TMA) Waduk Jatiluhur masih di angka 96,60 Mdpl atau masih jauh dari batas normal waduk yang mencapai 107,00 Mdpl.

Dia berharap, masyarakat tak perlu merisaukan kondisi air Jatiluhur secara berlebihan. Apalagi, sampai membuat panik. Sebab, fenomena seperti ini terhitung biasa dan masih normal selama musim penghujan. (asep mulyana)