Sikap Kami: Gubernur Desa

Sikap Kami: Gubernur Desa

PEMILIHAN Presiden masih lama, tapi suasana hangatnya sudah mulai terasa. Ada survei-survei yang menggeliat. Ada gubernur yang mulai disorong-sorong.

Anies Baswedan, misalnya, resminya Gubernur DKI Jakarta. Tapi oleh sebagian orang –pendukungnya—dijuluki gubernur rasa presiden. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, kini juga dapat gelar: gubernur desa.

Sah-sah saja. Asal jangan disebut calon Presiden Indonesia, apalagi Presiden Indonesia. Masih lama. Kata orang-orang, Belanda masih jauh.

Ihwal gubernur desa ini, sejatinya, tentu saja cukup mengejutkan. Terlebih melihat latar belakang Emil. Seorang ahli perkotaan, pria kosmopolitan, sukanya main Twitter dan Instagram, gemar sekali menyingkat segala sesuatu layaknya millenial, kok bisa dijuluki gubernur desa?

Tapi memang, sejak awal, ketika berkampanye di Pilkada Jabar, desa memang menjadi salah satu perhatiannya. Saat itu, yang populer adalah one village one company (satu desa satu perusahaan).

Sejak awal memimpin Jawa Barat pula, dia menyakan 60% fokusnya adalah membangun desa. Ini dia lakukan agar tak terjadi ketimpangan yang tinggi antara desa dengan kota. Ujung-ujungnya, meredam urbanisasi karena masyarakat desa sudah memiliki keasyikan dan ekonomi sendiri di desa-desa.

Dia menyebut programnya sebagai Desa Juara.Pilarnya digitalisasi layanan desa, satu desa satu perusahaan, dan gerakan membangun desa. Turunannya bermacam-macam. Dari jembatan gantung desa, Bumdes Juara, sapa warga, hingga patriot desa. Macam-macamlah. Banyak untuk dijejer satu-persatu.

Pemikirannya tentang desa –meski lagak dan lakunya adalah orang kota—juga terlihat dari caranya menarik dana dari pusat. Sadar moratorium daerah otonomi baru masih jalan, dia mengusulkan pembentukan desa baru. Agar dana desa dan alokasi dana desa mengalir.

Maka, pemberian gelar Gubernur Desa oleh Apdesi Jawa Barat, sejatinya bukan mengada-ada. Harap dicatat, tanpa mengabaikan hasil kerja keras gubernur sebelumnya, faktanya di era Emil Jawa Barat tak lagi memiliki desa dengan status sangat tertinggal.

Bahwa kemudian keberhasilannya membangun desa membuat pula namanya disebut-sebut sebagai gubernur berhasil, bahkan layak “dikipas-kipas” maju Pilpres 2024 mendatang, maka –sekali lagi—itu hanyalah bonus dari hasil kerjanya. (*)