Hasbunallah Wa Nimal Wakiil

Hasbunallah Wa Nimal Wakiil

SAUDARAKU. Misalkan ada yang berikhtiar mencari sebuah rumah. Rumah itu ada di tengah hutan pegunungan yang luas. Orang itu hanya tahu ada rumah di sana, tapi ia tidak tahu alamat maupun arahnya. Lalu, karena merasa, kuat, berani, dan keren, dia langsung masuk saja ke dalam hutan. Ia pun mengabaikan papan peringatan.

Akibatnya, setelah menempuh beberapa puluh meter ia mulai bingung dan gugup. Mencapai seratusan meter sudah sering terpeleset, dan memaki-maki hutan yang menanjak dan curam. Maju lagi sekian langkah makin pusing, karena berjalan sambil tak henti berpikir. Hingga ia pun menggigil saat mendengar ada suara mengaum. Saat itu ia tersadar sedang berpegangan pada papan Peringatan.

Lalu, ia melihat lagi apa yang tertulis di sana: "Bagi Yang tidak tahu jalan, silakan melapor dan pasrahkan sepenuhnya kepada kami. Akan kami antarkan sampai tujuan dengan tepat dan selamat." Ia meneriaki dirinya sendiri, "Mengapa tidak melapor dari tadi? Saya benar - benar bodoh!"

Kemudian ia melapor. Disampaikannya bahwa ia mencari sebuah rumah di dalam hutan. Tanpa berani menceritakan apa yang telah dialami sebelumnya. Tapi sebetulnya penunjuk jalan juga sudah menyaksikan dari menara, serta dari pakaiannya yang kumal dan sobek Hanya pura-pura tidak tahu demi menjaga perasaan orang itu.

"Baiklah, sudah jadi janji kami untuk mengantarkan. Tapi tas yang setinggi badanmu ini isinya apa?" Orang itu menjawab," ini hanya beras, alat masak, dan gas elpiji 12 kilo." "Tidak perlu! Tinggalkan semua, di hutan banyak makanan.Termasuk kedua galon air yang diikat di lehermu itu juga tinggalkan, di sana ada mata air."

Setelah orang itu siap, penunjuk jalan berkata lagi. "Kamu ikuti saja, saya sama sekali tidak akan menyesatkan. Dijamin sampai dan selamat kalau kamu pasrahkan sepenuhnya kepada saya. Karena saya juga yang membangun rumah itu." Lalu mereka pun berangkat.

Ketika jalan mulai menanjak, orang itu berkata. "Mengapa harus lewat jalan menanjak?" Lalu dijelaskan bahwa di atas pegunungan banyak pohon buah-buahan yang Iezat. "Oh, ya!" katanya langsung semangat mendahului. Tak lama kemudian dia pun berteriak, "Ada babi hutan!" "Tenang," kata penunjuk jalan, "Babi hutan tak bisa belok, miring saja sedikit."

Sesudah dirasa cukup, penunjuk jalan menuntunnya meneruskan perjalanan menuruni dinding bukit yang licin. "Sudah naik, mengapa turun lagi? Apalagi ini licin," kata orang itu. Lalu dijawab bahwa di bawah ada mata air yang jernih dan segar. Maka dia pun jadi semangat meluncur.

Saudaraku, dari ilustrasi kisah ini, ada hikmah yang dapat kita petik. Hikmahnya, kita harus patuh dan pasrah saja kepada Allah. Sebab Allah adalah Pemilik kita. Allah Yang Mahabaik lebih menghendaki kita bahagia dibanding kita sendiri. Karena itu kita diberi beragam peraturan. Tapi kita sendiri yang suka memilih melanggar dengan sok pintar dan sok keren. Sehingga hidup kita sendiri pula yang diliputi kebingungan, resah, gelisah, dan sengsara.

Allah Pemelihara dan Penjamin kita. Dia-Iah yang paling menginginkan kita selamat menjadi ahli surga. Sedang kita sendiri kurang ingin ke surga. Cirinya, kita suka berbuat maksiat yang mencelakakan diri, serta kurang berani mengakui dan menyesa|i kesalahan sendiri. Kita kurang mau menuruti-Nya. Padahal seluruh perintah Allah SWT itu merupakan jalan ketenangan, kebahagiaan dan keselamatan. (KH Abdullah Gymnastiar)