Ternyata Manggis Khas Purwakarta Sudah Diekspor dari Dahulu

Ternyata Manggis Khas Purwakarta Sudah Diekspor dari Dahulu
Ilustrasi/Net

INILAH, Purwakarta – Kabupaten Purwakarta merupakan salah satu wilayah penghasil Buah manggis di Jawa Barat. Bahkan, daerah dengan elevasi antara 100 sampai 800 mdpl ini, telah mampu mengeskpor buah dengan nama latin Garcinia Mangostana itu ke mancanegara.

Bahkan, kabarnya ekspor si hitam kemerahan dengan perpaduan manis dan asam ini, telah merambah pasar dunia sejak dulu. Dengan kata lain, Purwakarta bukan hanya baru-baru ini saja menjadi eksportir ratu buah tropis ini.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan menjelaskan, sebenarnya ekspor manggis dari Purwakarta sudah berlangsung sejak dulu. Namun, saat itu ekspornya baru melalui perusahaan dari luar. Selain itu, dulu juga diklaim bukan manggis asal Purwakarta.

“Jadi, dulu itu manggis dari kita dibeli pihak ketiga. Lalu, mereka yang ekspor,” ujar Agus kepada INILAH, Selasa (25/2/2020).

Tetapi, sejak 2018 tata niaga ekspor manggis diperbaharui. Yakni, manggis dari Wanayasa dan sekitarnya ini diekspor langsung oleh petani yang telah bekerjasama dengan perusahaan yang ada di wilayah ini. Sampai saat ini, sudah ada tiga perusahaan eksportir manggis di Purwakarta.

Menurut Agus, ketiga perusahaan ini setiap tahunnya rutin mengekspor manggis ke sejumlah negara. Seperti, negara-negara di Asia Tenggara dan Cina. Bahkan, untuk Cina tidak ada unlimited. Berapapun manggis yang diekspor dari Purwakarta, pasti diterima pasar negeri tirai bambu tersebut.

“Kami sangat bersyukur, akhirnya manggis Wanayasa diakui dunia dan permintaannya cukup tinggi," ujar Agus.

Agus mengakui, manggis Wanayasa ini merupakan varietas yang telah disertifikasi oleh Kementerian Pertanian. Sertifikasi itu, tertuang dalam Kepmentan No 571/Kpta/SR.120/9/2006. Varietas manggis Wanayasa ini, menjadi unggulan di Indonesia.

Karena itu, lanjut Agus, ekspor manggis akan terus ditingkatkan. Bahkan, pada musim panen 2020 ini, ditargetkan ekspornya bisa menembus 3.000 ton. Adapun, panen manggis ini dimulai sejak Januari hingga Maret. Untuk puncaknya, diprediksi pada Maret mendatang.

Agus mengakui, dengan dibukanya kran ekspor manggis ini, salah satunya memberi manfaat keuntungan bagi petani. Sebab, permintaan manggis ini unlimited. Dengan begitu, berapapun hasil panen petani, yang sesuai syarat maka bisa diekspor ke pasar dunia.

“Dengan adanya ekspor ini, kesejahteraan petani meningkat. Sebab, harga jual manggis di pasar dunia mencapai Rp 28 ribu per kilogramnya,” ujarnya.

Upaya untuk menggenjot ekspor manggis ini, lanjut Agus, salah satunya dengan intensifikasi lahan dan peningkatan produktivitas. Para petani petani juga, diedukasi untuk melakukan peremajaan (replanting) pohon manggis yang sudah tua melalui bantuan bibit. (Asep Mulyana)