Korsel Uji Coba Corona pada Semua Jemaat Gereja di Daegu

Korsel Uji Coba Corona pada Semua Jemaat Gereja di Daegu
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Shincheonji- Kasus infeksi virus corona di Korea Selatan tercatat terus meningkat hingga 893 pada Selasa, sehingga otoritas kesehatan menyatakan berencana untuk melakukan pengujian terhadap lebih dari 200.000 anggota Gereja Shincheonji di pusat wabah di negara itu.

Dari 60 kasus baru yang dilaporkan per hari ini, 16 di antaranya berasal dari kota Daegu yang merupakan lokasi gereja tersebut berada, serta 33 dari sekitar Provinsi Gyeongsang Utara, menurut data dari Pusat Penanganan dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (KCDC).

Pada sebuah rumah sakit di Provinsi Gyeongsang Utara pula dilaporkan kasus kematian ke sembilan akibat infeksi virus corona.

Pemimpin Gereja Shincheonji menyatakan telah setuju untuk memberikan nama-nama jemaat di seluruh Korea Selatan, yang diperkirakan mencapai jumlah 215.000 orang.

Pemerintah akan melakukan pengujian sesegera mungkin setelah mendapatkan daftar nama jemaat tersebut, kata kantor perdana menteri dalam sebuah pernyataan.

"Kami terus meminta daftar nama itu. Karena berdasarkan perhitungan kami, pengujian terhadap seluruh anggota gereja sangat penting dilakukan demi menahan penyebaran virus dan meredam kepanikan yang terjadi di masyarakat," dikutip dari pernyataan itu.

Pihak Gereja Shincheonji, yang sempat mendapat kritik dari masyarakat atas cara mereka menangani wabah corona, meminta pemerintah untuk menjamin data personal para jemaat tidak tersebar ke publik.

"Kami telah kooperatif dengan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus serta menangani wabah yang sudah terjadi," ujar pendiri Gereja Shincheonji, Lee Man-hee, dalam sebuah surat terbuka.

Dia menambahkan bahwa pihaknya juga akan memeriksa jemaat yang sedang dalam proses pelatihan untuk menjadi anggota penuh.

"Semua langkah ini akan diterapkan dengan premis bahwa pemerintah siap melindungi semua informasi pribadi para jemaat," kata Lee.

Sekitar 60 persen kasus corona di Korea Selatan terkait dengan penyebaran infeksi di sekitar gereja tersebut, dengan kasus pertama yang dilaporkan terjadi pada wanita anggota gereja berusia 61 tahun tanpa riwayat perjalanan ke luar negeri, sehingga belum dapat dipastikan kontak penularan pertama.