Jabarano, Starbucks, dan Asa dari Flinders Lane

Jabarano, Starbucks, dan Asa dari Flinders Lane
(Antara Foto)

JABARANO Café hadir di Melbourne, Australia. Mampukah bersaing dengan Starbucks?

Peristiwa itu terjadi hampir setengah abad yang lalu. Di Seattle, Washington, mereka mendirikan kedai kopi yang belakangan menjadi trend dan gaya hidup dunia.

Ketiganya bukan ahli kopi. Jerry Baldwin seorang guru Bahasa Inggris, Zev Siegl guru sejarah, Gordon Bowker malah penulis. Mereka, di masa remajanya, sama-sama mahasiswa di University of San Francisco. Ketiganya pun sama-sama penikmat kopi berkualitas dan terpesona kopi racikan Alfred Peet.

Tak salah lagi, begitulah kelahiran Starbucks. Dia tak serta merta jadi brand yang kuat. Di Seattle, kedai kopi Starbucks itu bahkan baru mulai bisa menikmati keuntungannya pada dekade 1980-an.

Menjadikan Jabarano Cafe seperti Starbucks itu pulalah obsesi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Dia ingin, kedai kopi ini, sekali waktu, memiliki jaringan internasional yang kuat. “Bisa semacam Starbucks. Nantinya di setiap kota ada perwakilan kopi Jabar atau Jabarano ini,” katanya.

Upaya itu sudah dimulai di 555 Flinders Lane, Kota Melbourne, Australia. Dia meresmikan Jabarano Café, Senin (24/2). Inilah gerai pertama yang menjual kopi Jabar di Benua Kanguru itu.
Proses kelahiran Jabarano, sejatinya, hampir sama dengan Starbucks. Lahir dari citarasa kopi nan tinggi.

Kopi Jabarano sebagian besar merupakan jenis arabika, namun dengan keunikan tersendiri. Kopi arabika di Jabarano Cafe memiliki tingkat keasaman yang rendah dan agak manis sehingga dapat dinikmati banyak orang. Selain arabika, di Jabarano Cafe juga ada kopi-kopi spesial lainnya yang merupakan kelas premium. 

Emil bertekad terus mempromosikan kopi Jabar di Negeri Kanguru. Setelah di Melbourne, dia menargetkan tiga Jabarano Cafe lagi. “Melbourne ini merupakan yang pertama, kemudian nanti di Sydney, Adelaide dan juga di Perth,” sebutnya. 

Tidak hanya di Australia, Emil juga menargetkan ada Jabarano Cafe lain minimal di 20 kota besar dunia. Dari pengalamannya keliling dunia, belum ada kafe yang menjual kopi khas Indonesia. “Jadi mendobrak kevakuman kafe itu dengan menghadirkan Jabarano ini,” katanya. 

Emil percaya dengan kualitas tinggi dan kekayaan varian yang dimiliki, kopi Jabar dapat diterima dunia. “Ya, jadi ada visi yang sederhana, kami ingin kopi Jawa Barat menjadi juara dalam pasar kopi dunia. Karena kita punya komoditas kopi yang sangat beragam,” katanya. 

Untuk itu, Pemprov Jawa Barat bertekad memperbesar produksi kopi yang banyak bertebaran di kabupaten dan kota. “Jadi komoditasnya kita punya dan bagus, tinggal bagaimana produksi serta promosinya,” ungkap Emil. 

Menurutnya, salah satu promosinya adalah dengan menghadirkan budaya Jabar dan produk UMKM di Jabarano Cafe. Selain dapat menikmati citarasa kopi Jabar, pengunjung kafe juga dapat menikmati sajian budaya. “Itulah konsep Jabarano ini,” sebut Emil.

Soal nama, memang agak beda dengan cara lahirnya Starbucks. Jika nama Starbucks lahir karena tiga sekawan itu merasa kuat dengan brand yang diawali “st”, maka Jabarano lahir mengikuti gaya Americano. “Jadi Jabarano ini sederhana saja, singkatan dari Jabar dan Ano. Ya kira-kira seperti Americano,” ungkapnya. 

Dari segi produksi, Jabarano Cafe akan dijadikan sebuah tempat untuk mengkurasi kopi lokal yang hendak masuk pasar luar negeri. Jadi kopi-kopi yang mau ekspor, yang mau masuk ke pasar dunia, harus punya sertifikat. “Dengan demikian, kopi Jabar akan mendunia dan kesejahteraan petani-petani kopi akan meningkat dan ekspor kita pun akan meningkat,” jelas Emil. 

Pada acara peluncuran atau showcasing Jabarano Cafe ini, Emil ditemani Ketua Diaspora Indonesia Dino Patti Djalal, Dirut Bank BJB Yuddy Renaldi, serta Duta Antikekerasan terhadap Wanita dan Anak-anak, Cinta Laura. 

Turut hadir Ketua Dekranasda Jabar Atalia Praratya Ridwan Kamil, Wakil Ketua DPRD Jabar Achmad Ru'yat, Kepala Dinas Pendidikan Dewi Sartika, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Muhammad Arifin Soedjayana, serta Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat Hendy Djatnika.

Dirut Bank BJB Yuddy Renaldi mengungkapkan bahwa BJB salah satu segmentasinya adalah untuk mendukung produk-produk pertanian seperti gula, teh dan kopi. “'Saat ini kami sedang menggalakan pembiayaan ke sektor pertanian. Nah untuk komoditas kopi ini, memiliki potensi yang bagus,”' ungkap Yuddy. (jaka permana/ing)