Mantap, Desa Maju dan Mandiri Terealisasi Signifikan di Jabar

Mantap, Desa Maju dan Mandiri Terealisasi Signifikan di Jabar

 
INILAH, Perth, – Pembangunan perdesaan di Provinsi Jawa Barat dalam satu tahun dari 2018-2019 mencapai hasil signifikan, ditandai dengan kenaikan status desa sebanyak 1.302 (24,5 persen) dari total 5.312 desa. Angka kemiskinan dan ketimpangan (indeks gini) juga dapat diturunkan relatif cepat.  

Seperti dikutip dari rilis yang diterima redaksi kami, kenaikan status desa tersebut ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Nomor 201 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Keputusan Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa No 52 Tahun 2018 tentang Status Kemajuan dan Kemandirian Desa. 

Dalam keputusan tersebut dinyatakan kini tak ada lagi desa sangat tertinggal di Jabar, yang mana pada tahun 2018 tercatat masih ada 48, akan tetapi pada tahun 2019 telah naik statusnya menjadi desa tertinggal, bahkan sebagian ada yang melompat menjadi desa berkembang. 

Perubahan status lainnya, untuk desa tertinggal jumlahnya berkurang signifikan menjadi 326 dari 929. Sedangkan yang lainnya mengalami kenaikan status, yakni desa berkembang ada penambahan 53 dari jumlah sebelumnya 3.603 menjadi 3656 desa, kemudian bertambah pula 537 desa maju dari sebelumnya hanya 695 menjadi 1.232. Selain itu terjadi kenaikan status pada desa mandiri sebanyak 61, yang mana tahun 2018 masih berjumlah 37, pada tahun 2019 jumlah desa mandiri bertambah menjadi 98 desa. 

“Ini capaian positif melalui inovasi dan kolaborasi dalam pembangunan desa. Hal ini turut berdampak pada angka kemiskinan dan indeks gini yang menurun. Pemerintah pusat juga menjadikan Jabar sebagai model nasional yang tercepat dalam penanggulangan kemiskinan,” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di sela perjalanan kunjungan kerjanya ke Australia, Sabtu (22/02/2020).      

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2018 kemiskinan Jabar tercatat 7,25 persen, pada September 2019 menjadi 6,82 persen atau menurun 0,43 persen. Ketimpangan (indeks gini) di Jabar juga tercatat menurun dari 0,405 menjadi 0,398 pada September 2019. 

“Pembangunan desa terus dilakukan untuk dapat tercapai desa mandiri yang berkelanjutan,” ujar Kang Emil. 

Secara terpisah Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Jabar, Dedi Supandi menambahkan, capaian ini tak lepas dari sejumlah terobosan melalui program strategis yang telah dilaksanakan secara sinergis dengan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Kotak Literasi Cerdas (Kolecer), penyaluran kredit Masyarakat Ekonomi Sejahtera (Mesra), Satu Desa Satu Perusahaan (One Village One Company/ OVOC), dan Satu Pesantren Satu Produk (One Pesantren One Product/ OPOP).

Terobosan lainnya adalah Kampung Caang, yakni program listrik ke pelosok atau daerah terpencil, kendaraan multiguna lewat program Mobil Aspirasi Kampung Juara (Maskara), pembangunan Jembatan Gantung Desa (Jantung Desa), Desa Digital, Jalan Mulus Desa (Jamu), rehabilitasi rumah tidak layak huni (rutilahu), serta penyaluran tenaga pendamping BUMDes melalui Program Patriot Desa.   

“Capaian jumlah desa mandiri ini sudah melampaui yang ditargetkan dalam Perda RPJMD, dari yang ditargetkan tahun 2019 sebanyak 63 di lapangan dapat dicapai 98 desa. Bahkan hasil ini melampui tahun 2020dengan target 87 desa,” kata Dedi. 

    Menurut Dedi, penilaian status desa ini dilakukan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) tiap tahun sekali dengan melihat Indeks Desa Membangun (IDM), yang mengacu pada tiga indikator , yaitu Indikator Ketahanan Sosial, Indikator Ketahanan Ekonomi, dan Indikator Ketahanan Ekologi. 

    Ada pun untuk Indikator Ketahanan Sosial, yang dinilai meliputi akses masyarakat desa terhadap kesehatan, pendidikan, modal sosial, serta permukiman.  

    Sebagai contoh dari program Jantung Desa telah mempermudah akses masyarakat desa ke tempat layanan kesehatan dan pendidikan seperti polindes, posyandu, puskesmas,  maupun ke sekolah. Jantung Desa telah dibangun 23 unit tersebar paling banyak di kawasan Jabar selatan, dengan nilai lebih kurang Rp 4,8 miliar. Tahun 2020, Pemprov Jabar menargetkan pembangunan 84 unit lagi dengan anggaran sekitar Rp 12 miliar. 

    “Jembatan gantung desa ini menghubungkan dari satu bukit ke bukit yang lain. Waktu tempuh ke tempat layanan kesehatan menjadi lebih cepat. Jarak tempuh juga lebih pendek, misal dari jarak 3 kilometer karena sebelumnya harus memutar, dengan adanya jembatan gantung bisa lebih dekat menjadi satu kilometer saja,” ucap Dedi. 
  
    Pemprov Jabar dalam upaya mewujudkan desa mandiri akan menggenjot ketahanan ekonomi desa, salah satunya dengan mengerahkan tenaga Patriot Desa. 

    “Masih banyak desa yang belum mempunyai BUMDes. Umumnya warga tidak mengetahui potensi desanya walaupun sebenarnya ada. Tenaga pendamping dari Patriot Desa tahun 2020 akan direkrut sekitar 300 orang untuk fokus mendampingi 326 desa yang masih berstatus desa tertinggal supaya desa-desa ini bisa naik statusnya menjadi desa berkembang, hingga mandiri,” kata Dedi.