Potensi Besar Migas di Indonesia Terbuka Lebar

Potensi Besar Migas di Indonesia Terbuka Lebar

INILAH, Jakarta- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencanangkan target produksi minyak sebanyak 1 juta barel per hari pada 2030.

Hal itu didasarkan data yang menunjukkan masih banyak potensi cadangan migas yang masih tersimpan di perut bumi dan belum dieksplorasi. Demikian disampaikan oleh Kepala Divisi Perencanaan Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo dalam acara yang diselenggarakan Indonesian Petroleum Association (IPA) dengan nama NEXTGen Forum dengan topik The Future Energy Jobs.

Menurut Wahju, data pada kondisi hulu migas Indonesia dan potensinya dari 128 cekungan, ada 35 cekungan yang perlu dikembangkan dan 73 lainnya yang belum dieksplorasi.

SKK Migas menyakini masih adanya potensi cadangan migas yang sangat besar. Kondisi tersebut memberikan harapan bahwa industri hulu migas di Indonesia masih dapat berkembang di masa mendatang.

"Untuk memaksimalkan potensi yang ada tersebut, kita harus melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda atau disebut Business Unusual. Tetapi konteksnya positif. Business unusual itu berarti melakukan pekerjaan yang masif, agresif, dan efisien. Saya yakin hanya anak-anak muda bisa karena perubahan ada di tangan kalian," kata Wahju, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Sementara, Managing Director Schlumberger Indonesia, Devan Raj menjelaskan, ada banyak inovasi dalam hal teknologi pada proyek-proyek migas. Inovasi sangat dibutuhkan demi optimalisasi kinerja eksplorasi dan produksi migas nasional.

Teknologi, lanjut dia, juga dapat membantu menemukan lapangan-lapangan baru dengan mengedepankan efisiensi dan efektifitas. Sebagai contoh, Devan mengungkapkan, sebelum adanya bantuan dari teknologi ada sebuah pekerjaan yang memerlukan waktu selama 18 bulan. Sekarang, setelah adanya teknologi, waktu yang dibutuhkan dapat dipersingkat menjadi 18 hari.

Devan juga menegaskan, digitalisasi yang terjadi di hampir semua industri itu tetap memerlukan energi. Oleh karena itu, upaya pencarian sumber energi termasuk migas menjadi sangat penting. "Di industri migas, digitalisasi tidak bertujuan untuk mengganti peran tenaga kerja. Tetapi, teknologi justru membantu menghasilkan pekerjaan yang cepat, tepat, dan lebih baik," kata dia.

Sedangkan Surveillance & Optimization Engineer Area-1 PT MedcoEnergi Indonesia, Nayesha Shafira bercerita mengenai pengalamannya bekerja di perusahaan migas nasional. Sebagai pekerja baru dan generasi milenial, ia membagikan pengalamannya mengenai tanggung jawabnya sehari-hari di perusahaan tersebut.

Berbagai tips dan pandangannya tentang peranan generasi milenial pada industri hulu migas ke depannya. Menurut dia, ada tiga tips yang dapat membantu para mahasiswa atau fresh graduate yang baru masuk lapangan kerja, yaitu: memiliki pemikiran yang positif, terus belajar mengenai apapun dan siapapun karena selalu ada nilai-nilai yang dapat diambil, dan mengetahui kelebihan diri sendiri agar lebih stand out dibandingkan dengan yang lain. [inilahcom]