Meraih Rida Allah dengan Menghafal Al-Quran

Meraih Rida Allah dengan Menghafal Al-Quran
Ulfiyaturrohmah Azizah, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (istimewa)

Al-Quran adalah kalamullah, otentik kebenarannya langsung oleh Yang Maha Kuasa. Al-Quran merupakan pedoman hidup, petunjuk bagi umat manusia, jawaban dari semua pertanyaan dalam kehidupan. Al-Quran akan terjaga sampai hari akhir nanti karena Allah SWT sendirilah yang menjaganya (QS. Al-Hijr :9) yakni salah satunya dengan adanya orang-orang yang hafal Al-Quran.

Hingga kini Al-Quran yang sudah lebih dari 14 abad yang lalu tetap masih murni dan menyimpan jutaan makna yang terkandung di dalamnya. Wajar jika seorang ilmuwan Mesir yang tinggal di Jerman bernama Muhammad Abu Nasr menegaskan dengan kalimat “Al-Qur’an shaalihun li kulli zaman wa makaan”, artinya “Al-Quran adalah sebuah nash yang tidak akan pernah lekang dan lapuk sepanjang masa dan tempat”.

Dibaca sepanjang zaman dan waktu juga tidak akan membosankan. Sejak periode awal turunnya Al-Quran, Nabi Muhammad saw, sahabat, tabi’in, atba’ tabi’in dan generasi selanjutnya terus mencoba menggali makna dibalik nash suci Al-Quran. Selain itu, para pecinta Al-Quran juga diberikan kemudahan oleh Allah Swt dalam mempelajari dan menghafal ayat-ayatnya.

Menghafal Al-Quran merupakan sebuah anugerah dari Allah Swt, karena tidak setiap manusia dipilih oleh Allah menjadi seorang penghafal Al-Quran. Maka dari itu, seseorang yang diberi amanah hafalan Al-Quran haruslah bersyukur dan menjaganya seumur hidupnya. Karena hafal Al-Quran adalah sebuah nikmat dan kebahagiaan yang luar biasa indahnya.

Jika kita dapat menjaga Al-Quran, niscaya Allah Swt akan menjaga kita. Dan seorang penghafal Al-Quran telah dijamin oleh Allah Swt akan mendapat kebahagiaan dunia-akhirat juga termasuk Ahlullah (keluarga Allah).

Menurut Ustaz Yusuf Mansur, “Membaca dan menghafal Al-Quran itu ibarat membangun gunung emas. Setiap huruf yang dibaca, akan masuk ke dalam kantong-kantong kita yang nilainya bahkan lebih besar dari gunung itu sendiri”.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwasanya Imam Syafi’i pernah mengeluh kepada gurunya, Imam Waki’, akan buruknya hafalan. Sang guru memberi petunjuk kepada sang murid agar meninggalkan segala macam bentuk maksiat kepada Allah Swt.

Dikatakan oleh sang guru bahwa ilmu itu adalah cahaya (nur), sedangkan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati orang yang banyak melakukan maksiat kepada Allah Swt. Dengan memahami kasus di atas, dapat dipahami bahwa masalah hafal-menghafal sudah menjadi persoalan yang cukup luas.

Dalam sebuah hadis sahih, Nabi Muhammad saw telah mengindikasikan bahwa penghafal Al-Quran itu laksana orang yang mengikat unta. Apabila sang pemilik selalu mengawasi maka unta tersebut akan senantiasa dalam ikatan. Namun apabila sang pemilik lalai, maka unta akan cepat terlepas dengan sendirinya.

Dalam menghafal Al-Quran selalu ada rintangan dan ujian dari Allah Swt tapi jika kita bersabar, tekun, dan giat dalam menghafalnya insya Allah akan memudahkan segalanya. Seperti yang kita ketahui, bahwa seorang penghafal Al-Quran pun mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam mengemban amanahnya, yakni bagaimana orang tersebut dapat selalu menjaga hafalannya dengan baik, mengamalkan isi Al-Quran, dan mengajarkannya.

Hal pertama yang perlu dilakukan bagi orang yang ingin menghafal Al-Quran adalah berdoa dan menguatkan niat dengan ikhlas dalam menghafal Al-Quran dengan niat semata-mata hanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt dan meraih rida dan rahmat-Nya.

Bukan dengan niat untuk mencari popularitas dan tidak menjadikan bacaan Al-Qur’an untuk sombong, riya’ dan ujub. Penghafal Al-Quran harus mempunyai sifat tawadhu’ dan tidak merasa dirinya lebih baik dari pada orang lain.

Tidak hanya dengan doa dan niat, yang harus dilakukan selanjutnya adalah kesungguhan, keuletan, ketekunan dalam menghafalnya. Selain itu, kita pun harus mempunyai metode yang baik dan mempunyai target dalam menghafal.

Setelah adanya ikhtiar dan doa, pasti Allah Swt akan memudahkan jalan kita dalam menghafal kalam-Nya. Semoga Allah Swt menjadikan kita semua sebagai Ahlullah yakni “Keluarga Allah” dengan cara istiqomah dalam membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Quran. Aamiin.

Oleh: Ulfiyaturrohmah Azizah

Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung