G’day, Sentuhan Negeri Kanguru di Sungai Citarum

G’day, Sentuhan Negeri Kanguru di Sungai Citarum

 

AUSTRALIA ikut berperan dalam program rehabilitasi Citarum. Monash University bukanlah satu-satunya.

 

Gedung Pakuan, Agustus tahun lalu. Ridwan Kamil menerima tamu istimewa. Semuanya bule. Mereka berkebangsaan Australia. Datang ke Kota Bandung untuk ikut menyentuhkan tangannya dalam program rehabilitasi Citarum.

 

Mereka, 12 orang banyaknya, bukan sembarangan. Mereka adalah tokoh pendidikan dan penelitian dari Negeri G’day itu. Mereka tergabung dalam Dewan Australia-Indonesia Center (AIC).

 

“Mereka akan membantu kami menyukseskan program Citarum Harum melalui keilmuannya. Juga dilibatkan dalam pengembangan ekonomi inklusif di desa,” ujar Emil, sapaan akrab Gubernur Jawa Barat itu.

 

AIC memang lembaga yang semestinya peduli terhadap Indonesia, termasuk rehabilitasi Citarum. Lembaga riset ini justru dibentuk pemerintah Indonesia ketika masih dalam kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhyono.

 

Dunia tak berdiam terhadap persoalan di Citarum. Bank Dunia, misalnya, pertengahan tahun lalu menggelontorkan dana hibah sebesar Rp1,4 triliun untuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam membersihkan Citarum.

 

Keterlibatan Monash University adalah bagian dari keterlibatan dunia internasional. Monash University adalah kampus terkenal di Melbourne, Australia. Salah satu lulusannya adalah Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Bogor.

 

Monash University, nantinya, akan bersinergi dengan Pemprov Jawa Barat dalam menata Citarum. Kesepakatan untuk bahu-membahu membenahi Citarum tercapai saat Gubernur Ridwan Kamil berkunjung ke kampus tersebut, Senin (24/2) lalu.

 

Australia adalah negara yang konkret membantu Indonesia sejak didirikannya Indonesia-Australia Center oleh Pak SBY. Salah satunya adalah tim dari Australia ini, lintas organisasi membantu penataan Sungai Citarum di tahun ini, ujar Emil berkisah di hadapan pimpinan Monash University.

 

Menurut Emil, sapaan Gubernur Jabar, targetnya pada November 2020 kerja sama dengan Monash University sudah ada hasilnya. Diakuinya, penataan Citarum sehingga menjadi bagus dan bersih adalah salah satu perhatian Presiden Jokowi.

 

Untuk menata Citarum ini memang membutuhkan banyak tangan atau keterlibatan seluruh stakeholders. Salah satunya adalah dari sisi saintifiknya, yang antara lain akan melibatkan Monash University ini, kata Emil.

 

Selain menata Citarum, Pemprov Jabar dan Monash University juga bekerja sama dalam program vokasi dan sudah berjalan. 'Sudah berjalan, guru-guru dari Jabar datang ke sini, juga ASN-ASN Jabar dalam rangka penguatan SDM,'' ungkap Emil. 

 

Wakil Ketua DPRD Jabar Achmad Ru'yat menyambut baik sinergi Monash University untuk penataan sungai Citarum. Kajian-kajian yang dilakukan untuk revitalisasi sungai Citarum ini baik. Tentunya ini sejalan dengan visi Jabar, yaitu Jabar Juara Lahir Batin, papar Ru'yat.

 

Usai pertemuan dengan pimpinan Monash University, Emil tampil sebagai dosen tamu, memberikan kuliah umum di kampus tersebut. Dia menceritakan pengalamannya dalam membangun Kota Bandung saat menjadi wali kota dan juga program-program dan kebijakan yang dilakukan sebagai Gubernur Jawa Barat. 

 

Di hadapan 500 mahasiswa Monash University, Gubenur menyampaikan sejumlah program yang telah dilakukan. Seperti Jabar Saber Hoaks, tim di bawah Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) yang bertugas untuk menangkal dan memverifikasi segala bentuk informasi meresahkan khususnya di ranah digital.

 

Juga Desa Digital yang merupakan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet untuk mengembangkan potensi desa, pemasaran dan percepatan akses serta pelayanan informasi. 

 

Selain itu, Gubernur juga menjelaskan program Kredit Mesra BJB yang juga menyasar kalangan disabilitas serta Program English for Ulama. (jaka permana/ing)