Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
ilustrasi/foto: INILAH/Syamsuddin Nasoetion

PENYEBUTAN gelar "pahlawan tanpa tanda jasa" kepada para guru bisa jadi dimaknai sebagai pujian dan penghargaan. Namun bisa juga ia dianggap sebagai keengganan bersama untuk mengakui dan memberikan ganda jasa kepada para guru.

Guru di sini bisa jadi adalah guru mengaji, guru sekolah atau madrasah, dosen dan sejenisnya. Meski tanpa tanda jasa, begitu banyak anak bangsa yang berebut menjadi guru. Beragam alasan yang ada di balik minat besar ini.

Tulisan saya kali ini adalah berkisah tentang seorang guru bernama Abdu Malik, seorang guru desa yang kini berusia 40 tahun. Dari kampung tempat beliau tinggal dibutuhkan waktu yang cukup lama menuju sekolah tempatnya mengajar. Waktu tempuh menuju sekolah hanya bisa dipersingkat dengan cara menyeberangi sungai yang memisahkan wilayah rumah dan wilayah sekolahnya. Dibutuhkan 50 menit dengan cara menyeberangi sungai itu.

Celakanya, tak ada perahu di sana, pun tak ada jembatan. Wilayahnya sungguh masih masuk wilayah pedalaman alias desa sekali. Satu-satunya jalan menyeberangi sungai itu adalah berenang atau berjalan dalam sungai itu. Sebelah tangannya membawa tas, pakaian dan sepatu yang diwadahi plastik agar tak basah. Satu tangannya lagi untuk menyibak air demi lancarnya jalan. Jalan inilah yang dilaluinya selama 20 tahun. Luar biasa, bukan? Benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa.

Reporter BBC menaruh perhatian besar pada lelaki mulia ini. Diwawancarailah salah seorang murid Abdul Malik ini tentang cita-citanya kelak ingin menjadi apa. Dia menjawab: "Aku ingin menjadi guru seperti guruku, Abdul Malik." Rupanya, para muridnya menaruh hormat dan kekaguman pada sosok guru yang tulus ikhlas berjuang mencerdaskan mereka.

Sudahkah kita menaruh hormat dan kagum kepada guru-guru kita? Guru kita saat kecil dulu, yang mengajarkan huruf, aksara dan angka adalah manusia mulia yang harus kita hormati. Jalan lupakan mereka. Terimakasih para guruku, terimakasih para ustadz dan kiaiku. Semoga Allah senantiasa memuliakan panjenengan semua. Salam, AIM. [KH Ahmad Imam Mawardi]