Pembangunan Rumah Vertikal Solusi rumah Layak Huni di Jabar

Pembangunan Rumah Vertikal Solusi rumah Layak Huni di Jabar
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Dicky Saromi

INILAH, Bandung-Kebutuhan rumah layak menjadi masalah serius bagi masyarkat Jawa Barat. Terhitung 2018, terdapat 1,9 juta rumah tangga di Jabar tidak memiliki rumah layak yang tercatat oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Jabar. 

Jumlah tersebut cenderung membengkak bila disandingkan ada 2015 lalu yang hanya 1,2 juta penduduk tidak memiliki rumah layak. 

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Dicky Saromi mengatakan, pihaknya sangat memahami jika kebutuhan rumah layak jadi masalah serius bagi Jabar. Hanya saja, terdapat kendala yang dihadapi yaitu terkait menipisnya luas lahan. 

Menurut dia, lahan untuk permukiman hanya tersisa 154.000 hektar yang kebanyakan lahan tersedia di wilayah pedesaan. Hal itu tertuang dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) budidaya permukiman di Jawa Barat .

"Makanya banyak konflik pembangunan. mengambil lahan konservasi, merubah sawah karena di kota sudah semakin terbatas," ujar Dicky di Kantor Disperkim Jabar, Jalan Kawaluyaan, Kota Bandung, Jumat (28/2/2020).

Kendati demikian, pihaknya memiliki cara untuk menghadirkan hunian yang layak kepada masyarkat. Yaitu  melalui pembangunan rumah vertikal yang dinilai menjadi salah satu solusi untuk menambal kebutuhan rumah layak masyarakat di tengah ketersediaan lahan yang masih menipis. 

Saat ini, dia melanjutkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar akan menambah kehadiran Apartemen Juara, yang saat ini sudah berdiri di empat daerah. Adapun Apartemen Juara merupakan program pembangunan rumah vertikal yang dikhususkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. 

"Saat ini kita baru punya empat rumah vertikal, di Rancaekek, Batujajar, Ujungberung, dan Solokan Jeruk. Umumnya baru di metro Bandung," katanya.

Dicky mengtakan, dalam waktu terdekat Disperkim akan membangun hunian vertikal di kawasan Gedebage, Kota Bandung di lahan seluas 3,4 hektar milik Pemprov Jabar. Rencananya, ada empat tower yang akan dibangun.

"Tahun depan kita minta pemerintah pusat membantu untuk pembiayaan. Rencananya ada empat tower, 11 tingkat dengan total 1.424 unit," kata Dicky. 

Ada pun rencana lainnya, 119 tower akan dibangun di wilayah Cirebon-Patimban-Majalengka (Rebana) dengan total luas lahan mencapai 59,38 hektar. Di Kawasan Purwakarta-Cikopo-Cikampek akan dibangun 19 tower dengan luas lahan 9,67 hektare.

Tidak hanya itu, di Kawasan Pangandaran rencananya dibangun tiga tower di area 1,28 hektare.

"Di Tasikmalaya 29 tower bangunan, luas lahan 14,55 hektar. Di Kawasan MetroBodebek akan dibangun 91 tower bangunan dengan luas lahan 45,48 hektare," ungkapnya.

Menurut Dicky jumlah kebutuhan perumahan vertikal itu tak selalu menjadi tanggung jawab pemerintah. Karena itu, ia pun mendorong para pengembang untuk berpartisipasi dalam mencukupi kebutuhan rumah layak di Jabar. 

"Kami juga dorong swasta bukan hanya kami. Kami bahas dengan asosiasi karena rumah vertikal ini prkatis harus jadi dulu baru bisa dipasarkan. Kalau rumah tapak baru site plan bisa dipasarkan dari sisi pembiayaannya lebih leluasa," jelasnya. (riantonurdiansyah)