Sikap Kami: Jaga Jarak dengan China

Sikap Kami: Jaga Jarak dengan China

TAK ada larangan bersahabat dengan China. Tak ada pula yang menentang kerja sama ekonomi dan investasi. Tapi, dalam keadaan seperti ini, sepatutnya Indonesia “menjaga jarak” dengan China kalau tak mau seperti Iran.

Iran termasuk salah satu negara di luar China yang paling parah terpapar infeksi virus corona. Sebuah laporan menyebutkan ada 245 warga Iran yang terinfeksi, 26 orang di antaranya meninggal dunia.

Dari angka 245 itu, tujuh di antaranya adalah pejabat Iran. Seorang di antaranya bahkan Wakil Presiden Masoumeh Ebtekar. Seorang pejabat setingkat menteri yang juga terinfeksi, menyatakan virus corona tak mengenal seorang pejabat pemerintah atau rakyat biasa.

Kenapa Iran paling terpapar? Analisa sejumlah pihak ada dua. Pertama, Iran termasuk sahabat ekonomi China sejak mendapat sanksi dari Amerika Serikat. Karena itu, saling ketemu dan saling kunjungi di antara warga kedua negara, termasuk pemimpinnya Kedua, adalah cukup banyaknya jalur perlintasan di antara kedua negara.

Indonesia, sebagaimana juga Iran, adalah negara yang tengah mesra-mesranya dengan China, terutama di sektor ekonomi dan investasi. Salah satu proyek besarnya bahkan ada di Jawa Barat: Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Proyek-proyek kerja sama itu mendatangkan tenaga kerja China yang tak sedikit ke Indonesia. Salah satunya, pekerja kereta cepat asal China, bahkan pernah diobservasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin sebelum dinyatakan negatif.

Pemerintah mengambil langkah penangkalan virus corona. Sampai saat ini, tak ada orang di Indonesia yang sudah dinyatakan positif terkena virus. Tapi, sejumlah pihak asing meragukannya. Infeksi virus corona masih nol.

Tapi, seorang profesor epidemiologi dari Harvard University, Marc Lipstich meragukannya. Secara statistik, dia menyatakan tak mungkin Indonesia nol kasus. Apalagi, ada warga Jepang yang dikabarkan terinfeksi setelah pulang dari Indonesia.

Kita, sebagai warga, tetap memberi kepercayaan penanganannya kepada pemerintah. Tapi, berkaca dari Iran, kita bisa menduga bahwa Indonesia –seperti kata Lipstich—sangat potensial terkena virus heboh itu.

Karena itu, pemerintah sebaiknya “menjaga jarak” dengan China. Atas nama apapun, peningkatan ekonomi atau investasi, tak cukup layak untuk membuka kemungkinan masuknya virus corona ke Tanah Air. (*)